Sebagian besar tema dari kumpulan cerpen ini berangkat dari kegelisahan penulisnya. Cerpen yang berjudul “Apa Kabar Diriku” menunjukkan keresahan dalam batin seorang penulis yang bertanya pada diri sendiri yang kemudian dieksplorasi menjadi tulisan, lebih tepatnya seperti curhatan. Ada pula cerpen yang berjudul “Wawancarai Emmanuel Jin” yang menceritakan jejak pengalaman fiksi.
Membaca kumpulan cerpen ini, saya mengamini, ada beberapa cerpen yang dipengaruhi oleh gaya bercerita Sungging Raga. Mendayu-dayu, dengan bahasa yang segar. Seperti Salju di Lempuyangan atau Taman Ewood. Sifat Baik Daun atau Membiarkan Kau Menjauh, Cara Paling Sakti Mengobati Patah Hati, dan berapa yang lain menunjukkan, bahwa Daruz juga mengadopsi cerpen-cerpen bertemakan cinta. Tentu saja, itu sebuah hal yang wajar.

Pada intinya dari masa ke masa penulis akan mengikuti peristiwa yang sedang dialaminya. Lingkungan yang akan mendidik penulis untuk menggali ide lewat kegelisahan. Dan, Daruz Armedian menemukan kegelisahan dalam bentuk lain. Kegelisahan yang sederhana namun istimewa. Meskipun secara konseptual dan imajinasi belum matang, tetapi buku ini tetap memberikan pengaruh positif bagi pembaca.
Data Buku
