“Kelir Slindet”, Novel Etnografis Seorang Santri

Berharap hidupnya akan berubah lewat perantara anaknya, Saritem meninggalkan pekerjaannya sebagai telembuk. Ia berusaha memantaskan diri jika ternyata jodoh menakdirkannya menjadi besan Haji Nasir. Tapi usahanya ternyata sia-sia. Haji Nasir tidak sudi berbesan dengan keluarga telembuk dan bajingan. Maka pupus sudahlah harapan Saritem untuk memiliki hidup yang lebih baik dan terpandang di masyarakat.

Patah hati karena cintanya kandas, Safitri meninggalkan perannya sebagai vokalis kasidah pimpinan Musthafa dan malah menjadi penyanyi dangdut tarling. Di usianya yang belia, ia harus bertahan dengan omongan-omongan miring dan penghakiman masyarakat hanya karena ia anak telembuk dan bajingan. Apalagi ketika kemudian diketahui kalau ternyata Safitri hamil. Orang-orang semakin kasak-kusuk tanpa ampun. Beberapa mencelanya namun mendambakan tubuhnya, sisanya menghujat penuh kedengkian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Novel ini sama sekali tidak bicara soal dunia pesantren, tapi bagaimana Kedung mengkritik kemunafikan berbalut agama dalam novelnya bisa jadi hadir karena kesadarannya sebagai seorang santri. Asumsi ini tentu bisa saja salah karena kritik atas kemunafikan toh tidak harus hadir dari santri belaka. Meskipun demikian, tidak dipungkiri bahwa novel ini perlu diperhitungkan keberadaannya dan sebaiknya tidak dilewatkan khususnya oleh para santri.

Tinggalkan Balasan