Terlepas dari segala perdebatan itu, Kelir Slindet menjadi novel etnografis karya seorang santri yang cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kedung menarasikan kisah orang-orang Indramayu, tempat kelahirannya, dengan memukau. Persoalan kemiskinan, dangdut tarling, percintaan, politik, kekuasaan, dan kemunafikan jalin-menjalin dalam novel setebal 240an halaman ini.
Berpusat pada Safitri, gadis 14 tahun dengan suara indah, yang saling jatuh cinta dengan Mukimin, yang sama mudanya, novel ini cukup mengaduk-aduk perasaan pembaca dengan konflik-konflik yang berputar di sekitar dua orang tersebut.

Sebagai anak seorang telembuk (pekerja seks) dan bajingan, posisi Safitri di masyarakat jelas diremehkan dan dipandang sebelah mata. Apalagi ditambah dengan parasnya yang cantik dan suaranya yang indah, kedengkian orang-orang terhadapnya semakin subur belaka.
Ketika orang-orang mengetahui bahwa anak pertama Haji Nasir, seorang kuwu kaya yang cukup terpandang di desa, yaitu Musthafa, datang untuk melamar Safitri, desas-desus semakin ramai di masyarakat. Safitri dituduh punya susuk atau pengasihan. Apalagi ketika orang-orang kemudian tahu kalau laki-laki yang disukai Safitri ternyata adalah Mukimin, yang tidak lain merupakan adik Musthafa, makin menjadi-jadilah omongan masyarakat tentang dirinya.
