“Kelir Slindet”, Novel Etnografis Seorang Santri

Terlepas dari segala perdebatan itu, Kelir Slindet menjadi novel etnografis karya seorang santri yang cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kedung menarasikan kisah orang-orang Indramayu, tempat kelahirannya, dengan memukau. Persoalan kemiskinan, dangdut tarling, percintaan, politik, kekuasaan, dan kemunafikan jalin-menjalin dalam novel setebal 240an halaman ini.

Berpusat pada Safitri, gadis 14 tahun dengan suara indah, yang saling jatuh cinta dengan Mukimin, yang sama mudanya, novel ini cukup mengaduk-aduk perasaan pembaca dengan konflik-konflik yang berputar di sekitar dua orang tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai anak seorang telembuk (pekerja seks) dan bajingan, posisi Safitri di masyarakat jelas diremehkan dan dipandang sebelah mata. Apalagi ditambah dengan parasnya yang cantik dan suaranya yang indah, kedengkian orang-orang terhadapnya semakin subur belaka.

Ketika orang-orang mengetahui bahwa anak pertama Haji Nasir, seorang kuwu kaya yang cukup terpandang di desa, yaitu Musthafa, datang untuk melamar Safitri, desas-desus semakin ramai di masyarakat. Safitri dituduh punya susuk atau pengasihan. Apalagi ketika orang-orang kemudian tahu kalau laki-laki yang disukai Safitri ternyata adalah Mukimin, yang tidak lain merupakan adik Musthafa, makin menjadi-jadilah omongan masyarakat tentang dirinya.

Tinggalkan Balasan