Di ruang tamu sebuah rumah, seorang ayah sibuk menggulir layar telepon genggamnya setelah pulang bekerja. Sang ibu asyik membalas pesan di media sosial, sementara anak mereka tenggelam dalam permainan daring. Mereka berada dalam satu ruangan yang sama, tetapi seolah hidup di dunia yang berbeda.
Pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang asing. Di banyak keluarga Indonesia, teknologi digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ironisnya, teknologi yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan manusia justru kerap menciptakan jarak di antara anggota keluarga.

Perkembangan teknologi digital memang telah membawa berbagai kemudahan. Komunikasi menjadi lebih cepat, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, dan aktivitas sehari-hari semakin praktis.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat tantangan yang semakin nyata bagi kehidupan rumah tangga. Keluarga masa kini berada di persimpangan jalan: memanfaatkan teknologi sebagai sarana mempererat hubungan atau justru terjebak dalam dampak negatif yang dapat mengikis keharmonisan keluarga.
Fenomena ini semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna Internet Indonesia telah mencapai lebih dari 220 juta jiwa. Sebagian besar pengguna memanfaatkan Internet untuk mengakses media sosial, aplikasi percakapan, dan hiburan digital.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin terkoneksi dengan dunia maya. Akan tetapi, semakin tingginya intensitas penggunaan teknologi juga menghadirkan berbagai persoalan baru dalam kehidupan keluarga.
Salah satu masalah yang paling sering muncul adalah berkurangnya kualitas komunikasi dalam rumah tangga. Banyak pasangan suami istri menghabiskan waktu bersama secara fisik, tetapi tidak secara emosional. Saat makan malam, misalnya, masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya. Ketika berkumpul bersama keluarga, perhatian lebih banyak tertuju pada notifikasi media sosial dibandingkan percakapan dengan orang-orang terdekat.
Psikolog keluarga John Gottman menjelaskan bahwa komunikasi yang hangat dan berkualitas merupakan fondasi utama dalam mempertahankan hubungan rumah tangga. Menurutnya, hubungan yang sehat dibangun melalui perhatian terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika perhatian tersebut terus-menerus terganggu oleh perangkat digital, kualitas hubungan pun berpotensi menurun.
Fenomena ini bahkan melahirkan istilah baru dalam kajian psikologi, yaitu phubbing (phone snubbing), yakni kebiasaan mengabaikan orang yang berada di sekitar karena lebih fokus pada telepon genggam. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa perilaku phubbing dapat menurunkan kepuasan hubungan dan meningkatkan konflik dalam rumah tangga. Banyak pasangan merasa tidak dihargai karena kehadiran mereka dikalahkan oleh layar ponsel.
Selain mengurangi komunikasi, media sosial juga sering menjadi pemicu munculnya rasa cemburu dan ketidakpercayaan. Kemudahan berinteraksi dengan siapa saja membuat batas-batas hubungan sosial menjadi semakin kabur. Tidak sedikit konflik rumah tangga yang bermula dari aktivitas sederhana di media sosial, seperti memberikan komentar, tanda suka, atau berkomunikasi secara intens dengan lawan jenis.
Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung dalam beberapa laporan tahunan mencatat bahwa perselisihan yang dipicu media sosial menjadi salah satu faktor yang sering muncul dalam perkara perceraian. Perselingkuhan digital yang bermula dari percakapan biasa melalui aplikasi pesan instan kini menjadi fenomena yang semakin banyak ditemukan.
Di sisi lain, media sosial juga menciptakan budaya perbandingan sosial yang tidak sehat. Setiap hari masyarakat disuguhi berbagai unggahan tentang keluarga yang tampak harmonis, pasangan yang romantis, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna. Tanpa disadari, banyak orang mulai membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan apa yang mereka lihat di media sosial.
Padahal, kehidupan yang ditampilkan di dunia maya sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang. Tidak semua kebahagiaan yang terlihat di layar mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Namun, karena terus-menerus terpapar gambaran kehidupan yang tampak ideal, sebagian orang menjadi kurang bersyukur terhadap keluarganya sendiri. Perasaan tidak puas ini pada akhirnya dapat memicu konflik dan ketegangan dalam rumah tangga.
Dalam perspektif Islam, keluarga merupakan institusi yang dibangun atas dasar sakinah, mawaddah, dan rahmah. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa pasangan hidup diciptakan agar manusia memperoleh ketenangan, kasih sayang, dan cinta. Nilai-nilai tersebut tidak dapat tumbuh hanya melalui komunikasi virtual, melainkan membutuhkan kehadiran, perhatian, dan interaksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ulama kontemporer Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa salah satu prinsip utama dalam kehidupan rumah tangga adalah terciptanya hubungan yang penuh penghormatan dan kerja sama antara suami dan istri. Dalam konteks era digital, prinsip tersebut dapat diwujudkan dengan menjaga etika penggunaan teknologi agar tidak mengganggu hak-hak pasangan maupun anggota keluarga lainnya.
Sementara itu, Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa perkembangan teknologi pada dasarnya merupakan bagian dari kemajuan peradaban yang diperbolehkan dalam Islam selama membawa kemaslahatan dan tidak menimbulkan mudarat. Oleh karena itu, persoalan sebenarnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya.
Teknologi digital sejatinya juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan keluarga. Banyak pasangan yang harus menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan terbantu dengan adanya panggilan video dan aplikasi komunikasi. Orang tua dapat memantau aktivitas anak, berbagi informasi pendidikan, bahkan mengikuti kajian keislaman secara daring. Berbagai kemudahan tersebut menunjukkan bahwa teknologi memiliki potensi besar untuk mendukung kehidupan keluarga apabila digunakan secara proporsional.
Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukan menjauhi teknologi, melainkan membangun budaya digital yang sehat di dalam keluarga. Langkah sederhana dapat dimulai dengan menetapkan waktu bebas gawai saat makan bersama, membiasakan komunikasi tatap muka, serta menjaga keterbukaan antara suami dan istri. Orang tua juga perlu menjadi teladan dalam penggunaan media sosial agar anak-anak memahami bahwa teknologi hanyalah alat, bukan pusat kehidupan.
Pada akhirnya, keluarga di era digital memang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan berinteraksi. Namun, nilai-nilai dasar dalam keluarga tetap tidak berubah. Keharmonisan rumah tangga tidak ditentukan oleh seberapa aktif seseorang di media sosial, melainkan oleh seberapa besar perhatian, kasih sayang, dan waktu yang diberikan kepada keluarganya.
Keluarga saat ini berada di persimpangan era digital. Jika teknologi digunakan secara bijaksana, ia dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan. Sebaliknya, jika digunakan tanpa kendali, ia dapat menjadi tembok yang memisahkan satu hati dengan hati lainnya.
Oleh karena itu, di tengah derasnya arus digitalisasi, menjaga komunikasi, kepercayaan, dan kehangatan keluarga tetap menjadi tugas utama setiap anggota rumah tangga. Sebab, tidak ada teknologi secanggih apa pun yang mampu menggantikan makna kehadiran dan kasih sayang dalam sebuah keluarga.
Sumber foto: antara.
