KEMBALI KE TITIK NOL

FRAGMEN KEPULANGAN

Di ambang syawal
waktu seolah melambat di ujung tasbih
menghitung sisa perih yang luruh bersama debu-debu duka.
Kita adalah musafir yang gemar menimbun letih lalu datang mengetuk pintu langit dengan jemari penuh luka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gema takbir itu bukan sekadar transmisi suara di corong tua
Ia adalah getaran dari relung yang paling purba
sebuah deklarasi bahwa tak ada yang lebih raksasa dari Sang Pencipta
Sementara kita hanyalah remah-remah di hadapan semesta.

DIALEKTIKA LAPAR DAN JIWA 

Sebulan lamanya memenjarakan raga di balik jeruji dahaga
bukan untuk menyiksa, tapi untuk memaksa sukma bicara
bahwa selama ini kita terlalu kenyang oleh dusta dunia
dan terlalu lapar akan makna yang hakiki dan baka.

RITUAL MAAF DI ATAS MEJA

Kini di hadapan hidangan yang mengepulkan aroma rindu
kita duduk melingkar, menanggalkan jubah ego yang kaku.
Maaf bukan lagi sekadar kata yang meluncur lewat bibir yang bisu
tapi sebuah jembatan yang dibangun di atas reruntuhan masa lalu
saling membasuh wajah dengan tatapan yang tulus
mencuci jelaga yang menempel pada dinding-dinding kalbu
sebab apa gunanya kain sutra yang halus
jika di dalamnya bersemayam benci yang membatu?

KEMBALI KE TITIK NOL

Lebaran adalah sebuah titik
di mana garis melingkar bertemu
Sebuah kepulangan pada fitrah
kepada rahim kesucian.

Kita mencatat ulang takdir di atas lembaran yang baru
tanpa coretan dendam
tanpa sisa-sisa kesombongan.

Biarlah fajar ini menjadi saksi atas janji yang terpatri
bahwa kemenangan sejati bukanlah saat dipuji
melainkan ketika mampu menundukkan diri sendiri
dan memeluk lawan dengan cinta yang tak bertepi.

DIALEKTIKA KERUMUNAN DAN KESUNYIAN 

Di sela riuh rendah tawa yang tumpah di ruang tamu
ada sunyi yang diam-diam merambat di sudut kalbu.
Hari Raya sering kali menjadi panggung sandiwara semu
tempat menyembunyikan retak di balik gincu dan baju baru.

Kita berpesta di atas meja yang penuh dengan pretensi
bertukar kabar tentang pencapaian yang fana dan duniawi.
Namun adakah kita bertanya pada ruh yang letih dalam isolasi? Sudahkah benar-benar merdeka dari penjara hasrat yang tirani?

Kemenangan ini seharusnya menjadi peruntuhan tembok-tembok kasta;
si kaya tak lagi memamerkan mahkota
di depan yang nestapa.
sebab di hadapan sajadah kita hanyalah barisan kata
yang sedang mengeja nama Tuhan dengan suara terbata-bata.

EPILOG: MENANAM BENIH DI TANAH BASAH 

Nanti kala fajar Syawal mulai meninggi di cakrawala
kita berdiri di garis start
bukan di garis finis yang hampa.

Ramadan bukan museum tempat menyimpan takwa
Ia adalah laboratorium tempat meracik jiwa yang baja.

Kepulangan yang sejati bukanlah tentang jarak dan kilometer
bukan soal tiket kereta atau debu jalanan yang memudar
: adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita hanyalah butiran debu
di tengah simfoni semesta yang mahaluas dan tak terukur.

Biarlah baju baru ini lusuh dimakan waktu yang rakus
namun jangan biarkan fitrah kembali terlelap dalam arus
kita adalah penenun takdir
baru saja memotong benang yang putus
menyambungnya kembali dengan doa-doa tulus dan kudus.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan