Kenapa Gen Z Suka Mempertanyakan Agama

Fenomena “hobi mempertanyakan” ini memicu perdebatan sengit di ruang publik. Kelompok yang mendukung melihat ini sebagai tanda pendewasaan iman. Mempertanyakan agama dianggap sebagai langkah menuju iman yang sadar (conscious faith), bukan sekadar ikut-ikutan (taklid). Tokoh seperti Peter Enns dalam bukunya The Sin of Certainty (2016) berpendapat bahwa kepastian yang kaku justru bisa menjadi berhala. Dengan mempertanyakan, Gen Z sebenarnya sedang membersihkan agama dari praktik-praktik korup dan mengembalikannya pada esensi kasih sayang dan keadilan.

Di sisi lain, kaum tradisionalis melihat fenomena ini sebagai bentuk “relativisme moral”. Mereka khawatir bahwa tanpa jangkar dogma yang kuat, Gen Z akan terjebak dalam subjektivitas yang berbahaya—di mana kebenaran hanya ditentukan oleh perasaan masing-masing individu (moralistic therapeutic deism). Kekhawatiran ini beralasan karena tanpa komunitas agama yang terstruktur, individu rentan mengalami kesepian eksistensial dan kehilangan arah moral yang objektif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Agama yang Mendengarkan

Meninjau pemikiran Harvey Cox dalam The Secular City (1965), agama harus mampu bertransformasi di tengah sekularisasi jika ingin tetap hidup. Gen Z tidak sedang membenci Tuhan, mereka sedang muak dengan kemunafikan yang terkadang berlindung di balik jubah agama.

Keresahan mereka adalah cermin bagi institusi agama untuk melakukan otokritik. Sejarah mencatat bahwa agama-agama besar bertahan selama ribuan tahun bukan karena mereka statis, melainkan karena mereka mampu beradaptasi dengan pertanyaan-pertanyaan baru dari setiap generasi.

Kenapa Gen Z suka mempertanyakan agama? Karena mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar warisan identitas. Mereka menginginkan integritas. Mereka melihat dunia yang rusak—secara ekologis, sosial, dan mental—dan mereka menuntut agama untuk hadir sebagai solusi nyata, bukan sekadar pelipur lara di akhirat.

Tinggalkan Balasan