Secara sosiologis, Gen Z hidup dalam apa yang disebut Zygmunt Bauman dalam bukunya Liquid Modernity (2000) sebagai “modernitas cair”. Dalam masyarakat cair, institusi yang dulu dianggap absolut, seperti negara dan agama, kehilangan daya ikatnya. Keamanan yang dulu didapat dari kepatuhan pada tradisi kini digantikan oleh kebebasan individu untuk memilih identitasnya sendiri.
Secara historis, kita bisa merujuk pada pemikiran Charles Taylor dalam bukunya yang sangat berpengaruh, A Secular Age (2007). Taylor menjelaskan bahwa kita tidak lagi hidup dalam zaman di mana kepercayaan pada Tuhan adalah sesuatu yang “taken for granted” atau otomatis. Hari ini, percaya pada agama hanyalah salah satu opsi di antara banyak pilihan hidup lainnya. Bagi Gen Z, “pindah keyakinan” atau menjadi “agnotis” adalah pilihan yang tersedia di atas meja, bukan lagi tabu sosial yang mengerikan seperti pada generasi baby boomers.

“Spiritual but Not Religious”
Keresahan Gen Z ini termanifestasi dalam fenomena SBNR (Spiritual but Not Religious). Berdasarkan data dari Pew Research Center dalam laporan tahun-tahun terakhir, terjadi peningkatan signifikan jumlah anak muda yang mengidentifikasi diri sebagai “nones” (tidak berafiliasi dengan agama manapun). Namun, fakta menariknya adalah mereka tetap percaya pada keberadaan energi spiritual, alam semesta, atau kekuatan tinggi.
Fakta aktual di media sosial menunjukkan bahwa Gen Z lebih tertarik pada konten-konten yang membahas “makna hidup” dan “kemanusiaan” daripada “prosedur ritual”. Munculnya gerakan dekonstruksi iman di platform seperti TikTok dan Instagram menunjukkan bahwa mereka sedang membedah mana bagian dari agama yang merupakan “budaya manusia” dan mana yang benar-benar “pesan Tuhan”. Mereka mempertanyakan mengapa agama sering kali gagal menjawab krisis iklim (eco-anxiety) atau mengapa institusi agama terkadang menjadi pelindung bagi pelaku kekerasan seksual.
Dialektika Perubahan
