Kenapa Gen Z Suka Mempertanyakan Agama

Di era informasi mengalir tanpa bendung dan otoritas kebenaran tidak lagi tunggal, sebuah fenomena sosiologis muncul ke permukaan. Generasi Z (mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an) menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk mempertanyakan, menggugat, bahkan mendekonstruksi pemahaman agama yang diwariskan kepada mereka.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa agama saya mengklaim paling benar?” atau “Mengapa institusi agama tampak diam terhadap ketidakadilan?” menjadi narasi harian di ruang-ruang digital. Fenomena ini bukanlah sekadar pemberontakan remaja, melainkan sebuah pergeseran paradigma yang sangat dalam jika ditinjau dari perspektif teologis, sosiologis, dan historis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari Taklid ke Autentisitas

Agama sering kali dipahami sebagai kumpulan dogma yang harus diterima melalui iman. Namun, karakteristik dasar Gen Z adalah pencarian akan autentisitas. Dalam teologi klasik, ada konsep fides quaerens intellectum (iman yang mencari pemahaman) yang dikemukakan oleh Anselmus dari Canterbury. Gen Z menghidupkan kembali semangat ini, namun dengan nada yang lebih skeptis. Mereka tidak puas dengan jawaban “karena sudah tertulis demikian.”

Bagi mereka, Tuhan Yang Maha Kasih sering kali tampak kontradiktif dengan narasi teologis yang menekankan hukuman, eksklusi, dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda. Secara normatif, mereka sedang mencari “Tuhan yang relevan”—Tuhan yang hadir dalam isu kesehatan mental, keadilan sosial, dan kesetaraan. Ketegangan ini muncul karena adanya jarak antara teologi tekstual yang kaku dengan teologi kontekstual yang dibutuhkan untuk menjawab keresahan eksistensial mereka.

Dunia yang “Cair”

Secara sosiologis, Gen Z hidup dalam apa yang disebut Zygmunt Bauman dalam bukunya Liquid Modernity (2000) sebagai “modernitas cair”. Dalam masyarakat cair, institusi yang dulu dianggap absolut, seperti negara dan agama, kehilangan daya ikatnya. Keamanan yang dulu didapat dari kepatuhan pada tradisi kini digantikan oleh kebebasan individu untuk memilih identitasnya sendiri.

Secara historis, kita bisa merujuk pada pemikiran Charles Taylor dalam bukunya yang sangat berpengaruh, A Secular Age (2007). Taylor menjelaskan bahwa kita tidak lagi hidup dalam zaman di mana kepercayaan pada Tuhan adalah sesuatu yang “taken for granted” atau otomatis. Hari ini, percaya pada agama hanyalah salah satu opsi di antara banyak pilihan hidup lainnya. Bagi Gen Z, “pindah keyakinan” atau menjadi “agnotis” adalah pilihan yang tersedia di atas meja, bukan lagi tabu sosial yang mengerikan seperti pada generasi baby boomers.

Spiritual but Not Religious

Keresahan Gen Z ini termanifestasi dalam fenomena SBNR (Spiritual but Not Religious). Berdasarkan data dari Pew Research Center dalam laporan tahun-tahun terakhir, terjadi peningkatan signifikan jumlah anak muda yang mengidentifikasi diri sebagai “nones” (tidak berafiliasi dengan agama manapun). Namun, fakta menariknya adalah mereka tetap percaya pada keberadaan energi spiritual, alam semesta, atau kekuatan tinggi.

Fakta aktual di media sosial menunjukkan bahwa Gen Z lebih tertarik pada konten-konten yang membahas “makna hidup” dan “kemanusiaan” daripada “prosedur ritual”. Munculnya gerakan dekonstruksi iman di platform seperti TikTok dan Instagram menunjukkan bahwa mereka sedang membedah mana bagian dari agama yang merupakan “budaya manusia” dan mana yang benar-benar “pesan Tuhan”. Mereka mempertanyakan mengapa agama sering kali gagal menjawab krisis iklim (eco-anxiety) atau mengapa institusi agama terkadang menjadi pelindung bagi pelaku kekerasan seksual.

Dialektika Perubahan

Fenomena “hobi mempertanyakan” ini memicu perdebatan sengit di ruang publik. Kelompok yang mendukung melihat ini sebagai tanda pendewasaan iman. Mempertanyakan agama dianggap sebagai langkah menuju iman yang sadar (conscious faith), bukan sekadar ikut-ikutan (taklid). Tokoh seperti Peter Enns dalam bukunya The Sin of Certainty (2016) berpendapat bahwa kepastian yang kaku justru bisa menjadi berhala. Dengan mempertanyakan, Gen Z sebenarnya sedang membersihkan agama dari praktik-praktik korup dan mengembalikannya pada esensi kasih sayang dan keadilan.

Di sisi lain, kaum tradisionalis melihat fenomena ini sebagai bentuk “relativisme moral”. Mereka khawatir bahwa tanpa jangkar dogma yang kuat, Gen Z akan terjebak dalam subjektivitas yang berbahaya—di mana kebenaran hanya ditentukan oleh perasaan masing-masing individu (moralistic therapeutic deism). Kekhawatiran ini beralasan karena tanpa komunitas agama yang terstruktur, individu rentan mengalami kesepian eksistensial dan kehilangan arah moral yang objektif.

Agama yang Mendengarkan

Meninjau pemikiran Harvey Cox dalam The Secular City (1965), agama harus mampu bertransformasi di tengah sekularisasi jika ingin tetap hidup. Gen Z tidak sedang membenci Tuhan, mereka sedang muak dengan kemunafikan yang terkadang berlindung di balik jubah agama.

Keresahan mereka adalah cermin bagi institusi agama untuk melakukan otokritik. Sejarah mencatat bahwa agama-agama besar bertahan selama ribuan tahun bukan karena mereka statis, melainkan karena mereka mampu beradaptasi dengan pertanyaan-pertanyaan baru dari setiap generasi.

Kenapa Gen Z suka mempertanyakan agama? Karena mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar warisan identitas. Mereka menginginkan integritas. Mereka melihat dunia yang rusak—secara ekologis, sosial, dan mental—dan mereka menuntut agama untuk hadir sebagai solusi nyata, bukan sekadar pelipur lara di akhirat.

Melalui pendekatan sosiologis-historis, kita memahami bahwa mereka adalah produk dari zaman yang menuntut transparansi. Melalui pendekatan teologis, kita melihat bahwa keraguan mereka bisa menjadi jalan menuju pencerahan yang lebih dalam. Pada akhirnya, Tuhan yang mereka cari mungkin bukanlah Tuhan yang ada di dalam kotak-kotak doktrin yang sempit, melainkan Tuhan yang luasnya melampaui segala prasangka manusia.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan