Kepopuleran kitab ini semakin tegas dengan adanya beberapa terjemahan dalam bahasa lain seperti dalam bahasa Turki oleh Abdul Majid Bin Nusuh dengan judul Irsyād al-Ta’līm fī Ta’līm al-Muta’allim (1588 M), dan ke dalam bahasa Latin dengan judul Enchiridion Studiosi pada masa Perang Salib oleh H Roland pada tahun 1709 M dan dan Caspari pada tahun 1838 M menurut Mehdi Nakosteen. Termasuk, adanya beberapa komentar seperti Mir’at al-Thalibin (1320 M) karya Ishaq bin Ibnu al-Rumi, Tafhim al- Mutafahim (1986) karya Otman Pazari, l986 M menurut Affandi Mukhtar.
Bukti Intelektualitas

Kitab tersebut adalah satu-satunya karya yang dapat dijamah dari ulama yang dikatakan bernama lengkap Nu’mān bin Ibrahīm ibn al-Khalīl al-Zarnūjī Tāj al-Dīn dan juga diyakini masih memiliki beberapa karya lain namun raib di tragedi Hitam dan Merah. Beliau tercatat sebagai sastrawan dan ahli hukum dari Zarnuj (Turki) dalam kamus al-Munjīd fi al-Lughah wa al-A’lām karya Lūys bin Naqūlā al-Ma’lūf.
Sementara Burhān al-Dīn atau Burhān al-Islam merupakan gelar atas intelektualitasnya yang berarti atau bukti dan hujjah agama. Dalam Mausu’at al-Sulṭān Qābūs li al-Asma’ al-’Arab himpunan Muhammad Bin Zubair dkk, dikatakan ‘Burhān al-Dīn’ memiliki makna ‘الحجة البينة الفاضلة’ atau hujjah yang jelas lagi utama. Jelas penyematan ini pada pengarang juga menyesuaikan dengan intelektualitas dan pengakuan ulama di masanya.
Jadi, terlepas dari simpang siur nama asli serta tahun lahir dan wafatnya, yang jelas beliau bukan orang sembarangan. Dan yang pasti, al-Zarnūjī hidup di akhir abad 12 M, tahun di mana Mongolia meruntuhkan Daulah Abbasiyah pada 1258 M.
Mulai dari abad 10-12 M, Mongol tidak hanya menyerang manusia dan bangunan, mereka juga membumi-hanguskan manuskrip Islam di perpustakaan Iran, Kordoba, Lebanon hingga Turkmenistan, termasuk Turkistan. Sehingga kejadian itu juga dikenal dengan perang ‘Hitam dan Merah’, merah berarti darah, dan hitam berarti tinta. Tak heran jika era tersebut sering terbilang abad kemunduran Islam dari sedikitnya karya-karya yang ditemukan dalam rentang waktu tersebut.
Ini nampak korelatif dengan gelar yang disandang pengarang, dan sebagai bukti bahwa Islam pada waktu itu tidak mundur dalam konsep dan manajemen ilmu atau kepengarangan. Bahkan, dari sini kita harusnya berpikir, dengan perkembangan teknologi yang ada, mengapa karya klasik ini masih terasa relevan dan tidak kalah tanding dengan babon manajemen pendidikan lain? Jangan-jangan masa inilah yang sejatinya mundur?
Sīr al-Ikhlas Penulisan
Lora Ismael Kholilie dalam Pengarang Safinatunnaja dan Sirrul Ikhlas mengatakan bahwa kitab-kitab memiliki rahasia menurut Ibnu Athaillah, bahwa amal-amal seperti gambar yang mati dan tampak hidup sebab adanya ruh (sirr al- Ikhlas) atau rahasia keikhlasan. Demikian itu menurutnya sebab dari ribuan atau bahkan jutaan karya-karya ulama, hanya beberapa saja yang Allah sebarkan dan abadikan manfaatnya.
