KEPADA GURU SEKUMPUL

Misalkan kita di puncak bukit;
angin membawa nama-nama
yang pecah sebelum sampai,
di atas batu yang tak pernah bicara.

Misalkan benar inilah makamnya:
tanah yang retak,
bunga merekah lebih sunyi
dari doa yang dilupakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Syekh Yahuda, siapa yang datang padamu
selain mereka yang kalah?
Lalu apa yang mereka bawa:
butiran tasbih,
atau dosa yang tak bisa mereka titipkan?

Tapi kau tahu ziarah,
adalah musim panjang,
adalah sebuah perjalanan
tanpa pintu keluar.

Dan kami di sini,
di bawah bayang pohon tua,
bertanya pada sunyi:
apakah hikmah masih bersarang
di ranting patah?

Apakah yang kami cari sebenarnya,
di makam ini?
Jejak rahasia,
atau sekadar tempat
untuk merasa pulang?

Keyakinan dipasak
di atas batu dingin,
sementara angin melarikan doa-doa,
ke arah yang tak lagi kita kenal

– Pacitan, 2024.

*Syaikh Yahuda adalah leluhur dari Masyayikh PP. Al-Falah Ploso, Kediri.

MENYUSURI JEJAK LANGKAHMU

“Kutulis namamu
pada jejak yang tak tampak.”

Langkah pertama
setelah doa-doa
adalah gerak rindu yang tak henti
di getar dada.

Kubawa namamu,
dan basahlah
peluh kerinduan
di tiap ujung jari yang menunggu.

Lisan-lisan kami
yang lirih,
bergetar dan resaplah
ke dalam bisikan
hati yang diam.

Pada malam pengajaran yang tak usai,
kami bentangkan tapak jalan panjang
di tanah yang kau ajarkan,

Tinggalkan Balasan