di bawah terang cahaya malam:
setelah doa-doa
berulang kali gagal
menyentuh langit,
“Kau kembali datang
mewujud mantra, dan
cinta yang senantiasa
hangat dalam dada”

— damparalit, 2025.
DI SEPERTIGA MALAM, SEORANG SALIK BERTEMU MURSYIDNYA
Tiada kulihat sesuatu
Waktu aku menelusuri jejak langkahmu
Langit meredup, sepi mengunci
Mengimpit dadaku:
Ia seolah bayang yang menanti
Ia seolah suara yang hilang
Sebab aku tak bisa berpura-pura
Maka kubisikkan padamu:
Ia hanyalah malam yang memeluk sunyi
(Wah. Aku sudah takut
Jika aku bilang itu rindu
Padahal sekadar gerimis tanpa suara).
Namun daripada kita terus membisu
Ayo kita nyanyikan bukan kesepian kita
Tuntunan dari hati yang merindu
Tuntunan dari hati yang merindu
Tentu bukan kesepian
Sebab kata mereka:
Itulah suara kita yang hilang
Yang ditempa oleh waktu
— ketekunan jiwa.
Tiada kudengar sesuatu
Waktu aku menundukkan wajahku kepadamu
Mentari menyusup perlahan di celah jendela
Membawa bayangmu sekejap:
Seolah berbisik
Seolah datang kembali
Namun
Sebab aku tak bisa berpaling
Maka kubisikkan padamu:
Mereka tentu tak mencari cahaya
Dari kegelapan yang membungkam
(Wah. Cinta
Wah. Kekasih sejati)
Sungguh
Tiada kudengar
Tiada kulihat
Riuh dari dunia yang tak tampak
(Namun toh terasa
getar merobek
cahaya yang mengisi…)
Hai!
Siapa yang paling sunyi
Carilah gurumu!
Buka jalanmu!
Dan tiba-tiba:
Wah!
Allah merangkul kerinduan kita
Tapi
Siapakah Dia?
– damparalit, 2025.
