DI KAFE BASABASI
Sebelum maghrib, sesaat
setelah senja membatalkan kedatangannya.
Kau tiba bersama angin
memesan manis pisang coklat dan pahit kopi.

Meja-meja dan bangku-bangku mulai sesak
dengan kisah, kumpulan cerita yang hampir masak.
Kompas sunyi menunjuk sudut ruangan.
Sedangkan kata-kata menyisir keheningan
di sela-sela surau tubuhmu.
Langit mulai deras menghujankan puisi
dan aku mulai menuliskan masa depan.
SELEPAS PULANG
Kita telah usai mencicip seruas tanah,
sebuah dinding hitam bertuliskan perjalanan.
Rebahlah kenang bersama gulir waktu
setelah kita tunaikan ia satu persatu.
Sekarang lagi musimnya orang berziarah
mengunjungi pusara, monumen masa lalu,
tempat bersejarah, dan darmawisata.
Kita roda yang melaju ke arah
yang telah kita tetapkan titik perhentiannya.
Sedangkan kepulangan adalah ingatan
seperti tempat-tempat yang telah kita singgahi
dan peristiwa kita kekalkan
pada genggaman tangan masing-masing.
Kemarilah, kita mekarkan ia di muara pandang
agar kita puas memandang lepas penat perjalanan
dipeluk mite-mite tembang kenangan.
KEPADA IBUNYA, SEORANG PEMUDA BERTANYA
