Dalam buai waktu
kita selalu ditimang untuk menjadi dewasa,
belajar menata kepala,
merias diri,
memilah wewangian sendiri,
menentukan pijakan untuk berjalan.
Teruslah mengembuskan langkah
pada jalanan yang sesak oleh kisah
dan jangan sesekali membalikkan tubuhmu
untuk kembali pada lebat hujan
sampai kau benar-benar yakin
bahwa di hadapanmu ada matahari
yang sedang menantimu
esok pagi.

NASIB PUISI
Tak banyak yang peduli pada puisi. Seringkali orang-orang menuliskan kata-kata semau mereka sendiri, tanpa memikirkan perasaan puisi. Setiap saat dan setiap waktu. Terkadang ia dipaksa menjadi kata-kata yang sangat menyedihkan, kadang juga menjadi kata-kata yang amat kasar dan bahkan ia menjadi sangat buas.
Puisi bukan mesin waktu atapun perangkat tata surya yang bisa bekerja setiap waktu. Puisi juga berhak lepas bernapas dan memilih hidupnya sendiri. Puisi juga bisa lelah dan kadang butuh istirahat. Kata-kata juga perlu disiram, dirawat, dan diberi makan agar ia dapat tumbuh menjadi puisi. Tapi, jangan selalu memaksa kata-kata untuk selalu tumbuh menjadi puisi.
HALTE SENJA
Tak ada keheningan
pada penantian kawanan bus kota
penjaga terlalu sibuk mengurai tangan
kaki-kaki berjejal, saling berebut jejak
melewati lorong loket antrean
lalu bersandar menunggu utusan tiba
mengantarkan karangan bunga.
Rumpun anak-anak anyir berlabuh
membawa keringat berbau hujan
lalu satu persatu tangan-tangan kerut
berkibas masuk melalui pintu bus kota
menuju perjalanan pulang, bergantian
menanggalkan tapak tilas kenangan.
Setiap saat memasuki petang
di halte senja, selalu ada yang datang
dan ada yang pergi, silih berganti.
ilustrasi: depositphotos.
