KEPADA IBUNYA, SEORANG PEMUDA BERTANYA

Bu, mengapa kau menginginkan kedatanganku?

Sejak kau memilih hidup bersama seorang lelaki yang kusebut ayah, aku hanyalah mimpi pada waktu itu. Lalu Tuhan mengantarkanku padamu sebagai segumpal darah dan daging yang terbungkus denyut, setiap saat kauasuh dalam tubuhmu. Aku tak pernah benar-benar mengerti akan segala hal tentang waktu, perihal kedatangan dan kelahiran yang kalian rencanakan secara diam-diam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bu, sebenarnya apa arti kehadiranku?

Saat kau bermaksud memisahkan lelapku dari kesunyian di dalam tubuhmu, tanpa berembuk kau pertaruhkan penggalan cerita yang memenuhi sela-sela napas demi menyambut kedatanganku. Bersama erangan lirih diiringi kebahagiaan yang kauguratkan pada seutas senyum pipih, kau menyampaikan suatu kisah yang dulu kupahami sebagai kelahiran. Sedangkan saat ini, saat aku dewasa dan mulai mengerti bahwa pesanmu tak sesederhana berita kelahiran sebagai pertanda kedatanganku. Tapi lebih tepat bila disebut sebagai sebuah perjuangan yang tak bisa kuterka nominal harganya dan tak mampu kuukur seberapa besarannya.

Bu, kenapa aku harus menjadi dewasa?

Kau selalu menimangku dalam belaian waktu, menantiku tumbuh dan berkembang seperti halnya setangkai bunga yang mekar. Menuntun dan membangkitkan langkahku yang seringkali roboh oleh kecerobohanku sendiri. Aku rindu akan saat-saat itu. Jika diperkenankan memilih, sejujurnya aku masih ingin menjadi anak-anak. Kembali ke masa kecil, saat tangis dan tawa menjadi perkara yang bisa kunikmati sebagai kisah lugu, di mana segala persoalan tak kan menjadi bayang-bayang dalam pikiranku. Menyandarkan keningku di dadamu, siang dan malam, hingga dekapanmu enggan kaulepaskan.

Bu, dapatkah aku kembali menjadi anak kecilmu dulu?

Ternyata setelah aku menjadi dewasa, semua hal tak seindah dan semenyenangkan seperti apa yang aku pikirkan sewaktu aku masih kecil dulu. Terlalu banyak hal yang harus kupikirkan dan kuhadapi sendiri. Persoalan-persoalan hidup kian melimpah ruah, semakin rumit dan tak pernah habis hingga memadati isi kepalaku.

SEBELAS JUNI
: Kepada Perempuan yang Pernah Singgah di Hati

Kita tak pernah mengerti,
berapa harganya hari ini
sebab pagi tak pernah menyertakan label harga
yang dapat dibayarkan sewaktu-waktu.

Setiap hari, Tuhan memberi kita seduhan kopi dan susu
yang tak pernah surut dalam cangkir biru.

Tinggalkan Balasan