“Berarti, Kang Misbah punya ilmu-ilmu seperti itu?” selidik Kang Zubed.
“Entah… aku ‘kosongan’ Kang. Tidak punya ilmu, mujarobat, atau amalan-amalan seperti itu. Aku menganggapnya itu sebagai takdir.”

“Lalu, setelah itu bagaimana Kang?.”
Kang Misbah melanjutkan,”Mendengar ledakan itu, aku sontak kaget! Seperti kembang api. Siuuutt…Duuarrr… kemudian terdengar seperti banyak benda-benda berjatuhan di atas genteng ndalem. Krotok..krotok…tapi tidak ada satupun benda-benda keras yang terlihat jatuh ke tanah.”
Kang Zubed dan beberapa teman santri lainnya tampak terkesima mendengarkan. Aneh.
“Nyaliku ciut juga karena melihat peristiwa itu. Dengkulku gemetaran. Kakiku lemas tidak bisa beranjak. Lalu, kulihat Nyai Halimah sudah ada di teras ndalem dan melihat ke arahku. ‘Wes le..ndang tahajudan, ora ono opo-opo.’ Seketika, aku bisa melangkah.”
Di lain hari, Kang Misbah mendapat keterangan dari pengurus, bahwa pesantren ini memang sering mendapatkan ‘kiriman’. Entah itu teluh, santet, dan serangan-serangan batin lainnya. Yang bertujuan untuk mencelakai keluarga Kiai Hamim dan menganggu ketenangan pesantren.
Peristiwa lain. Ketika santri sudah terlelap, tiba-tiba terdengar bel dari ndalem. Pengurus-pengurus berjalan ke kamar-kamar santri untuk membangunkan. Mereka diminta untuk segera mengambil wudhu, berkumpul di masjid, dan tahajud berjemaah. Para santri bertanya-tanya, karena hal ini bukan menjadi jadwal rutinitas pesantren. Santri dibuat makin terheran ketika Kiai Hamim, sang pengasuh pesantren, ‘rela’ menjadi makmum dengan imam yang entah siapa. Imam yang menjadi tamu Kiai Hamim tampak biasa saja. Beliau terlihat bersahaja. Busana yang dikenakannya hampir bisa dikatakan lusuh. Bukan gamis atau jubah. Setelan kemeja hijau yang sudah pudar. Seketika seluruh ruangan masjid pesantren menjadi semerbak wangi melati.
Selesai tahajud, Kiai Hamim meminta seluruh santri untuk salam sungkem kepada tamunya. Tapak tangannya sangat lembut, lembut sekali. Ketika mulut santri menyentuh jemarinya, terasa empuk dan harum melati yang semakin memasuki lubang hidung. Nabi Khidir? Wallahua’lam. Kiai Hamim tidak pernah menjelaskan perihal beliau. Di akhir, tamu Yai Hamim tadi sempat bertanya.
“Mim… Halimah sehat-sehat ae to, le..?”
“Alhamdulillah, sehat, Bah.”
Tamu pun pergi. Ketika Kiai Hamim meminta para santri untuk berdoa sebagai penutup tahajud, tidak ada satupun santri yang menyadari kepergian tamu tadi, karena semua menghadap imaman untuk ‘amin-amin’ dengan posisi membelakangi pintu keluar masjid. Tidak tampak kendaraan sepeda motor, mobil, atau kendaraan lain yang digunakan. Atau suara deruan mesin yang menyala. Senyap.
Para santri ketika kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur, ramai menerka. Siapa tamu Kiai Hamim sebenarnya. Sebegitu tawadhunya Kiai Hamim. Mungkinkah dari sanad Nyai Halimah yang singgah sebentar hanya untuk menanyakan kabarnya? Istimewa sekali.
Pesantren ini memang sering kedatangan tamu. Sekadar untuk sowan, minta ‘ijazah’, berkonsultasi, minta asma’ atau amalan-amalan untuk tujuan tertentu. Tapi , kali ini si tamu bermaksud lain. Selesai memarkir mobilnya, si tamu dan keluarga tampak memegangi salah satu anggota keluarganya yang terlihat sakit. Badannya kurus. Matanya sayu. Tampak tidak terawat.
