Kiai Hamim mempersilakan para tamu yang membawa orang ‘sakit’ masuk ke ndalem. Mendadak, orang yang terlihat sakit tadi, berontak. Tidak mau masuk ndalem. Wajahnya gelisah. Rona wajahnya memerah seperti kepanasan. Kiai Hamim mendekat. Dielusnya kepala dari tamu tersebut, barulah sedikit tenang.
Sang tamu menjelaskan, bahwa yang dibawa adalah adiknya. Sang tamu bercerita, sepulang adiknya berjualan nasi goreng, tiba-tiba penglihatannya menjadi kabur. Sering berkata kasar. Jika mendengar azan atau anggota keluarga yang membaca Al-Qur’an, adiknya marah-marah tidak jelas. Padahal, sebelumnya adiknya orang yang gemar beribadah dan rajin ke masjid.

Kiai Hamim mendengar dengan saksama penjelasan tamunya. Dengan rendah hati, Kiai Hamim menyarankan untuk dibawa ke teman sesama kiai yang lebih berkompeten dan ahli dalam hal terawang kebatinan. Kiai Hamim berdalih jika di pesantren ini hanya berfokus pada ilmu-ilmu yang bersifat syariat atau ibadah. Jadi, Kiai Hamim merasa kurang ahli untuk menangani hal yang bersifat gaib. Untuk berjaga-jaga, Kiai Hamim memberikan sedikit amalan agar adik dari tamunya bisa sedikit tenang.
Ketika Nyai Halimah datang membawakan minuman dan suguhan, adik dari sang tamu tadi terkejut. Matanya menatap tajam Nyai Halimah. Mulutnya berkomat-kamit tidak keruan. Posisinya ancang-ancang hendak menyerang Nyai Halimah. Kakinya yang ingin berdiri, tapi buru-buru dicegah keluarga yang disampingnya. Orang-orang yang memegangi kewalahan. Hampir saja pegangannya lepas.
Nyai Halimah tersenyum. Berganti membalas tatapan tajam dari orang tadi. Singkat saja, Nyai Halimah tegas berkata, “Diombe yo!”
Seketika orang tadi mengangguk. Nyalinya ciut. Kesadaran yang setengah, antara terjaga dengan tatapan kosong. Orang tadi terengah-engah bernapas. Diminumnya teh suguhan dari Nyai Halimah. Barulah ia dapat bernapas lega dan istighfar.
Kiai Hamim sudah sepuh, begitu juga Nyai Nur. Lebih dari 70 tahun, guratan-guratan sabilillah tampak di wajah beliau berdua. Allah SWT menyayangi Kiai Hamim. Beliau mangkat terlebih dahulu, pulang ke rahmatullah. Ribuan petakziyah mengiringi. Orang alim diangkat, ilmu dicabut begitu tanda kiamat semakin mendekat.
“Kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya.” Begitu syair kematian Jalaludin Rumi mencoba menyelami kematian. Nyai Halimah rida, namun rasa kehilangan memang butuh jeda untuk pudar.
Mata Nyai Halimah yang sembab tidak bisa memungkiri. Bertahan, tetap tersenyum di sela beliau menerima sungkem penghormatan dari para pelayat. Dua putrinya, Ning Laila dan Ning Isnaini yang pulang dari gus-gus pesantren yang menjadi mantunya, tidak cukup meredakan rasa kesepian Nyai Halimah.
Estafet Kiai Hamim pun berpindah. Suami dari Ning Laila, Gus Din menjadi penggantinya. Gairah Nyai Halimah tampaknya belum juga beranjak dari nyala untuk menjadi besar. Beberapa kajian di pesantren putri yang biasanya Nyai Halimah terjadwal mengisi, diserahkan pada putrinya. Nyai Halimah banyak berkhalwat. Menyendiri untuk iktikaf. Suluk.
Dua makhluk gaib yang konon telah lama menjadi santri Kiai Hamim, melihat kondisi batin Nyai Halimah turut bersimpati. Mereka rindu pekikan keras Nyai Halimah. Karena setelahnya, wejangan-wejangan akan mereka dengar, menggugah rasa ingkar, untuk selanjutnya membuat mereka sadar, kemudian turut nyantri secara gaib kepada Kiai Hamim dan Nyai Halimah. Satu makhluk gaib berbisik kepada temannya. Seperti merencanakan sesuatu.
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari salah satu kamar pondok putri. Beramai-ramai santri putri mendekat. Kemudian teriakan-teriakan kepanikan ramai riuh terdengar.
“Kusnul kejinan!! Kusnul ngaamukk…!!!
“Kusnul kejinan!! Kusnul kerasukan…!!!
