Contoh lain yang masih terkait dengan pembatasan elektronik adalah setrika. Di pesantren, pemakaian setrika sangat terbatas. Mungkin hanya disediakan dua atau tiga buah setrika yang diperuntukkan bagi semua santri. Secara otomatis, waktu penggunaannya sangat terbatas. Dalam situasi tersebut, santri didorong mencari ide untuk menemukan solusi.
Hal unik yang pernah ditemukan adalah memanfaatkan bantal. Jadi, sebelum tidur baju yang harus disetrika tersebut diletakkan di bawah bantal. Lalu, ketika bangun baju tersebut diambil. Kalau ingin hasil yang lebih baik, proses tersebut dilakukan beberapa kali. Maksudnya, tidak hanya satu malam, tapi harus beberapa malam. Mungkin kebiasaan itu terdengar aneh dan unik bagi yang belum pernah mencoba, tetapi tidak bagi pagi para santri. Hal yang seperti itu sudah biasa di kalangan santri, sebagaimana kata pepatah tiada rotan, akar pun jadi.

Di pesantren, selain kegiatan mengaji dan belajar, juga terdapat kegiatan-kegiatan lain yang berperan dalam pembentukan karakter santri. Di antara kegiatan yang membentuk karakter kreatif dan inovatif yaitu kegiatan khiṭabah, atau terkadang ada yang menyebut khiṭabiyah. Pada kegiatan tersebut, santri diminta untuk mempersembahkan pidato dan beberapa penampilan lain, seperti puisi, menari, talkshow, fashionshow, dan lain sebagainya.
Kegiatan tersebut sangat mengasah ide para santri. Dalam keterbatasan fasilitas, para santri biasanya memanfaatkan barang-barang seadanya yang disulap menjadi kreasi hiasan yang indah. Misalnya, membuat hiasan bunga dari kantong plastik yang tidak terpakai. Kemudian, terkait busana untuk para santri yang bertugas, juga dibuat dengan bahan yang seadanya, misalnya membuat gaun dari koran untuk anak yang akan tampil fashionshow.
Terkadang, masih ditemukan orang tua yang khawatir menyekolahkan anaknya di pesantren, karena takut nanti hanya bisa mengaji saja. Padahal, pada kenyataannya tidak demikian. Banyak hal di pesantren yang menunjang pembentukan karakter kreatif dan melatih kedisiplinan santri.
