“He-he-he-he, maaf Qif aku, kan, tak sejenius kamu,” ucap Alif dengan nada merayu.
Percakapan itu harus berhenti sebab mereka harus segera mengantre mandi agar tidak telat berangkat ke sekolah. Jika mereka terlambat beberapa detik saja, maka mereka harus bersiap-siap berangkat ke sekolah dengan kondisi “setengah matang”. Bagian kepala mandi, sedangkan leher ke bawah tidak mandi. Nekat mengantre pada antrean yang panjang sama saja dengan rela berjemur layaknya turis di tengah lapangan sekolah.

Selesai mandi, Qif segera membungkus badannya dengan seragam sekolah dan segera memakai sepatu sebab Alif sudah memanggil-manggil namanya dari gerbang pondok. Alif memang sedikit menyebalkan, tetapi dia teman yang bisa diandalkan. Alif tak akan tega membiarkan sahabatnya terlambat sendiri. Dalam perjalanan ke sekolah, Qif masih gelisah perihal jawaban untuk masalah malam nanti. Qif merasa ada yang mengganjal di hatinya saat ia tak bisa menunaikan tanggung jawabnya.
Betapa hebatnya pondok pesantren yang mampu mengajari anak seusia Qif tentang amanah. Anak sekecil itu merasakan kegelisahan saat ia tak bisa menunaikan tugasnya dengan baik. Qif memang santri yang istimewa. Qif selalu berusaha memaknai kalimat yang ia dengar dengan dengan hati, seperti pesan yang disampaikan oleh Pak Kiai bahwa mengerti saja itu tak cukup, tetapi juga harus memahami. Qif berusaha memahami pesan tersebut bahwa untuk menjadi orang yang paham, harus cenderung menggunakan hati. Sebab, letak perbedaan antara mengerti dan memahami ada pada hati. Qif akan mengerti betapa pentingnya pemahaman seperti ini. Jika tak sekarang, berarti nanti.
***
Azan Isya berkumandang sayup-sayup merdu di antara derap-derap langkah para santri yang hendak berwudhu. Suasana seperti ini membuat Qif terenyuh. Saat melihat puluhan santri berbaris rapi menunggu giliran berwudhu tiba. Gemericik tetesan air yang terus mengalir tanpa henti hingga barisan-barisan suci itu habis berpindah ke dalam musala. Qif terenyuh sebab melihat mereka semua yang tanpa sadar telah berlatih kesabaran. Bersabar untuk tidak mendahului orang lain, bersabar untuk tidak mengeluh saat menunggu, dan pastinya bersabar untuk memenuhi syarat yang harus dilakukan sebelum memenuhi kewajiban shalat lima waktu.
Qif tersadar dari lamunannya saat ia teringat perihal jawaban untuk bahtsul masail setelah ini. Sejak dari tadi siang sepulang sekolah, Qif berusaha mencari dalil yang pas, tetapi hasilnya belum beruntung, silakan coba lagi. Qif bergumam lirih dalam hati, “Alif, maafkan aku. Sepertinya kita nanti harus siap-siap melemaskan kaki.”
Peraturan dalam bahtsul masail adalah barang siapa kelompoknya tidak menemukan jawaban, maka disilakan dengan hormat untuk berdiri hingga kegiatan ini selesai sebagai hukumannya. Qif segera berwudhu dan berjamaah salat Isya.
Selepas salat Isya berjamaah, semua santri menuju kelasnya masing-masing untuk melaksanakan kegiatan bahtsul masail. Qif melangkah tanpa semangat memasuki ruang kelasnya. Seperti dugaannya, hanya kelompoknya yang tidak mengumpulkan jawaban.
Tibalah saatnya Qif dan Alif harus berdiri dengan penuh ketulusan. Qif memilih berdiri sambil merenung. Ada rahasia yang tak disampaikan oleh Qif kepada Alif. Rahasia yang Qif simpan sendiri. Sebenarmya Qif tidak menemukan dalil bukan karena Qif gagal menemukannya. Qif sudah menemukannya, tetapi bersamaan dengan itu Qif mengetahui bahwa ada kelompok lain yang juga menemukan dalil yang sama dengan Qif. Qif memilih tak memakai dalil tersebut sebab Qif tidak mau melihat temannya berdiri hanya karena kalah cepat dalam mengumpulkan jawaban. Qif memilih mencari dalil dari kitab lain, sayangnya dalil yang Qif temui tidak sekuat dalil sebelumnya. Akhirnya Qif memilih tidak mengumpulkan jawaban karena tidak ada dalil yang pas. Yang paling pas adalah tidak menyusahkan orang lain. Mungkin hal tersebut tak bisa dimengerti, tetapi bisa dipahami. Seperti pesan Pak Kiai.
***
Di tengah-tengah renungannya, Qif melihat ke luar jendela. Qif terbelalak kaget melihat langit yang mulanya gelap tiba-tiba berubah menjadi merah menyala. Selang beberapa saat sebagian besar santri juga ikut melihatnya. Tetiba keadaan menjadi tak terkendali, gempar, dan panik menjadi satu. Peristiwa yang tak pernah terjadi di masa-masa sebelum ini. Qif bergumam dalam hati, “Apakah benar ini Kiamat?”
***
Semua santri keluar dari kelasnya masing-masing. Ada yang penasaran dengan apa yang terjadi, ada yang sangat panik, bahkan ada yang kebingungan hingga berkali-kali keluar masuk kelas tanpa tujuan. Salah seorang santri yang bernama Zen bertanya kepada Sobah, santri yang lain.
“Sob, mengapa langitnya berwarna merah menyala seperti itu?” tanya Zen bingung.
“Mungkin di langit sedang terjadi kebakaran Zen dan mobil pemadam kebakaran belum datang,” gurau Sobah mencoba menenangkan Zen. Meskipun hal tersebut jelas tidak mungkin terjadi.
“Jangan bergurau Sob. Apa benar hari ini kiamat? Aku takut Sob. Aku belum menikah,” tanya Zen lagi.
“Aku tak tahu Zen. Kita harus memastikannya. Ayo ikut aku!” ajak Sobah.
