Ketika 22 November 2006

“Apa yang akan kau lakukan Sob?” tanya Zen penasaran.

“Jangan banyak tanya Zen. Cerewet sekali kau, seperti ibu-ibu hendak melahirkan saja. Aku akan mengumandangkan azan di musala, Zen,” jawab Sobah tegas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mereka berdua segera berlari menuju musala. Zen menyiapkan mic dan sound system, sedangkan Sobah sebagai pengumandang azan. Sobah pernah mendengar keterangan bahwa salah satu tanda kiamat adalah azan tidak lagi berkumandang. Karena itu, jika ia tak bisa mengumandangkan azan, maka bisa dipastikan hari ini kiamat.

Bergemuruhlah suara azan bernada “cempreng” sebagai “alat penguji kiamat”. Sontak saja hal ini membuat orang-orang di sekitar area pondok keluar dari rumah karena terheran-heran. Salat Isya sudah dilaksanakan beberapa jam yang lalu dan salat subuh masih akan dilaksanakan beberapa jam yang akan datang, lalu tiba-tiba ada yang mengumandangkan azan. Sampai Pak Kiai dan keluarganya ikut keluar dari ndalem. Pak Kiai pun segera bergerak cepat menemui pemilik suara azan tersebut di musala. Sobah dan Zen pun dipanggil dan Pak Kiai menasehati mereka.

Di akhir nasihat, Pak Kiai berpesan, “Nak, paham itu mahal. Cobalah kau renungkan, apakah tanda-tanda kiamat kubro sudah muncul? Jika belum, lantas kenapa kau masih bingung menentukan ini kiamat atau belum, apalagi sampai beranggapan bahwa hari ini kiamat.”

Kurang lebih setelah satu jam berlalu, warna langit perlahan kembali seperti semula. Salah seorang dewan asatiz menyampaikan kepada para santri untuk kembali ke kelasnya masing-masing dan memberikan kabar bahwa langit berwarna merah menyala tadi disebabkan oleh ledakan pipa Pertamina di daerah lumpur Lapindo Sidoarjo. Tepat pada hari Rabu, 22 November 2006, dikabarkan bahwa diduga sebab putung rokok yang dibuang sembarangan, pipa Pertamina meledak di kawasan semburan lumpur Lapindo Sidoarjo.

***
Esok harinya, perihal kiamat itu menjadi pembicaraan hangat di pondok. Alif termasuk santri yang menggebu-nggebu ingin bertanya lagi kepada Qif.

“Qif, untung saja ya kiamatnya batal,” ungkap Alif.

“Kiamat tak pernah batal Al, tetapi masih pending,” jawab Qif.

“Kok bisa masih pending Qif?” tanya Alif lagi.

“Sebab sinyalnya trouble , he-he-he-he,” gurau Qif.

“He-he-he-he. Iya Qif. Kamu benar. Aku mengerti sekarang,” kata Alif.

“Ingatlah Al, mengerti saja tak cukup, harus paham!” kata Qif tegas.

Surabaya, 3 Agustus 2021.

Tinggalkan Balasan