Ketika Buya Menyusuri Jalan Cahaya

Beliau telah memberikan jawaban atas pertanyaan dan kesalahpahaman masyarakat terhadap ajaran-ajaran Ahmadiyah. Pada hakikatnya, keberagaman kaum muslim di dunia sama dengan keberagaman mereka, sama-sama menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw sebagai sumber kehidupan yang utama.

Sekilas ketika membaca, saya teringat teks-teks sebelumnya yang pernah saya baca (dalam buku pembelajaran sejarah semasa SMA), bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad merupakan seseorang yang mengaku sebagai seorang Nabi. Saya menganggapnya hal yang keliru, karena tiada nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw. Bukankah Nabi Saw adalah khatamun nabiyyin? Namun setelah membaca buku Buya, jalan gelap yang berada di ruang kosong jiwa saya terisi oleh cahaya terang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kutipan kata Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikutip oleh Hazrat Masroor Ahmad saat pidato meyebutkan, “Setiap cahaya pengetahuan kami peroleh berasal dari mengukuti Rasulullah Nabi Muhammad al Ummi. Dan siapapun yang mengikutinya akan memperolehnya juga,” (hal. 15)

Sesekali Buya memberikan kepenulisan khasnya, dengan menyelipkan beberapa bait syair dari beberapa tokoh sufistik, seperti Ibnu Arabi, Syams Tabrizi, dan Maulana Jalaluddin Rumi. Menyambung penjelasan tentang kenabian, Hazrat Mirza Masroor—dalam keterangan buku ini—mengakui bahwa Rasulullah Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasul terakhir, tiada lagi nabi dan rasul sesudahnya hingga hari kiamat.

Pernyataan tegas inipun juga terdapat dalam Kitab al Barahin al Ahmadiyyah, al Khazain al Ruhaniyyah, “..dia adalah penutup para nabi serta sebaik-baik manusia…” dalam buku lain, “Al Mahfuzat” kumpulan ucapan dan penjelasan pendiri jamaah Ahmadiyyah, Mirza Ghulam Ahmad pun menyatakan bahwa Rasulullah Saw adalah khatamun nabiyyin/penutup para nabi.

Kemudian di mana kesalahpahaman yang selama ini terlampau jauh disalahpahami?

Tinggalkan Balasan