Teman-teman yang saya sayangi, perkenalkan saya Atiqoh ([email protected]). Dalam tulisan singkat ini, saya hendak berbagi kegelisahan dalam menafsirkan puisi-puisi Chairil Anwar. Keterbatasan bacaan dan pengetahuan yang saya miliki bisa menjadi dasar acuan bagi kita untuk saling berdialog; bertukar pikiran. Untuk mengenang seabad Chairil Anwar (26 Juli 1922- 26 Juli 2022), mari kita dengan gembira merayakannya dengan amal jariyah yang Chairil wariskan: Ilmu.
Bertemu Tuhan dalam Puisi

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi” sepertinya merupakan salah satu doa Chairil Anwar yang tak dikabulkan. Akhir puisi yang melegenda itu menjadi bagian paling menukik dalam setiap pembacaan puisi “Aku”.
Menziarahi Chairil anwar artinya ikut tenggelam dalam puisi-puisinya yang masyhur. Kepulangannya pada usia yang sangat muda dan kegetiran hidup nampaknya menuntun kata-kata menjadi bagian yang paling purna dalam hidup Chairil.
Chairil bukan lagi binatang jalang yang seperti yang disebut-sebut oleh banyak orang. Jika ingin tenggelam dalam puisi-puisi Chairil, ada banyak cinta dan duka yang saling berkelindan memenuhi ruang hidup Chairil. Sebagai lelaki yang terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, tidak sepantasnya Chairil menghidupi hidupnya dengan kemiskinan. Namun siapa sangka melalui kegetiran itu, Chairil menemukan hidupnya, bahkan setelah kematiannya.
Pada 1942, puisi Chairil dimuat untuk pertama kalinya dengan judul Nisan. Itu setelah 20 sajak mengalami penolakan karena dianggap tidak layak berdasarkan pertimbangan kantor pusat kebudayaan Jepang yang kala itu diketuai oleh Sanusi Pane dan komite sastra yang diketuai oleh HB Jassin. Karya-karya Chairil dianggap sangat individualis dan tidak sesuai dengan semangat kebangunan Asia Timur Raya. Namun, ke-20 puisi tersebut didokumentasikan dengan baik oleh HB Jassin, karene ia sadar bahwa karya Chairil bukanlah karya yang bisa dipandang sebelah mata.
Sebagai salah satu pelopor angakatan Pujangga Baru, Chairil mendobrak tatanan Bahasa Indonesia yang saat itu masih sangat berumur muda. Chairil benar-benar menampakkan aspek kelisanan dalam setiap kata yang ia rangkai menajadi sebuah karya.
Berbeda dengan tradisi menulis kala itu yang cenderung menggunakan Bahasa Melayu Tinggi yang baku seperti yang ditulis oleh, Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane. Kelisanan yang menjadi ciri khas dalam karyanya menampakkan autentikasi kehidupan nyata yang Chairil selami.
Untuk menulis “Nisan”, Chairil mengalami ritual ziarah kubur nenekandanya. Begitu pula dengan sajak-sajak cinta, patah hati, pertemuan dengan para pelacur, bahkan sajaknya yang menampakkan hubungan spiritualnya dengan Tuhan. Melalui sajak-sajak tersebut, Chairil menulis segala pertemuannya. Apakah Chairil juga menemui Tuhan dalam beberapa puisinya?
Menatap Tuhan Melalui Puisi
Puisi/syair merupakan mukjizat paling mulia yang diturunkan oleh Tuhan. Bahkan dalam Al-Qur’an terdapat surat As-Syu’ara yang memiliki arti para penyair. Penyair memiliki eksistensi yang penting dalam tananan sosial budaya orang Arab. Hal tersebut dikarenakan penyair dikenal sebagai sosok yang mampu menemukan hakikat hidup yang tidak dapat diungkap oleh masyarakat lain pada umumnya. Bahkan tiap tahunnya para penyair Masyhur berlomba-lomba untuk menciptakan syair. Beberapa Syair terbaik dikumpulkan dan dikenal dengan al-Muallaqot. Syair-syair tersebut digantung di dinding Ka’bah sebagai bentuk persembahan agung. Sebagai sebuah titik peradaban, puisi juga bagaikan sebuah rumah bagi masyarakat Arab sesuai dengan semboyan bangsa Arab asy-syi’ru diwanul arab (puisi adalah rumah bagi bangsa Arab).
Keindahan puisi tak terelakkan adanya. Bahkan HB Jassin pada tahun 1993 menuai banyak kontroversi karena dengan berani menerbitkan terjemah Al-Qur’an dengan judul Al-Qur’an Berwajah Puisi. Terlepas dari kontroversi yang hadir, Al-Qur’an Berwajah Puisi telah memberi sumbangsih besar terhadap khazanah perkembangan tafsir di Indonesia. Abdurrahman Wahid justru memberi dukungan penuh terhadap ide HB Jassin untuk menyusun Al-Qur’an Berwajah Puisi. Bahkan BJ Habibie memberikan sumbangan dana pribadinya sebesar Rp 150 juta demi terlaksananya penerbitan Al-Qur’an Berwajah Puisi.
Karya sastra adalah penggambaran kehidupan yang nyata. Sebagaimana pula dengan puisi-puisi Chairil yang menggambarkan betapa dalam ia menyelami kehidupannya sendiri, menemukan dirinya, dan menemukan penciptanya. Sebagaimana Rabiah al Adawiyah, yang menemukan Tuhan dalam kesengsaraan hidupnya. Atau Syekh Siti Jenar yang menggaungkan Manunggaling Kawulo Gusti. Apakah sejauh itu Chairil Anwar berkontemplasi menemui Tuhan melalui puisi-puisinya?
Chairil mengalami pengalaman berfilsafat dengan mengungkapkan pertanyataan kehidupan melalui sajak-sajak yang ia ciptakan. Empat puisi Chairil menyeru dengan gamblang bahwa ia “menemui Tuhan”. Dalam puisi “Nisan”, “Di Mesjid”, “Do’a”, dan “Kepada Kawan” Chairil seperti mengungkap betapa ia sadar bahwa Tuhan merupakan sang pemilik hidup. Bahkan dengan tersurat puisi-puisi tersebut menyiratkan kesadaran Chairil akan terhadap kehidupan yang fana. Melalui puisi tersebut Ia membuktikan bagaimana pengembaraannya untuk menemukan suaranya sendiri.
NISAN
untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi” sepertinya merupakan salah satu doa Chairil Anwar yang tak dikabulkan.
Menurut saya, tergantung darimana kita memandang. Jika dilihat dari sudut harfiah, maka Khairil mati muda, tidak sampai seribu tahun sebagaimana yang ada pada teks puisi. Namun, jika ditelusuri dari makna puisi, dimana puisi atau sajak lebih syarat makna metafor (makna yang jauh lebih mendalam), maka Khairil akan terus hidup hingga waktu yang tidak terbatas. Bahkan, hingga detik ini dan waktu-waktu selanjutnya sajak-sajak Khairil tetap hidup di hati-hati kita dan para penyair.
Intinya, hidup seribu tahun bisa diartikan sebagai kehidupan maknawi yang tidak akan mengalami kemandekan waktu, bahkan hingga yaumul qiyamah. Wallahu A’lam!