Ketika Chairil Anwar Bertemu Tuhan dalam Puisinya

Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tuhanku
aku hilang bentuk remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

Muhasabah merupakan momen berkontemoplasi dengan memusatkan perhatian ke dalam diri masing-masing. Dalam puisi “Do’a”, Chairil menemukan Tuhan yang Maha Agung. Kesadarannya yang penuh akan kelemahannya sebagai makhluk mengantarkan dirinya menatap kebesaran Tuhan. Keliaran Chairil dalam hidupnya tak membuat dirinya melupakan Tuhan. Jalan hidup yang ia pilih untuk menjadi seorang penyair yang luar biasa menunjukkan kegigihannya. Kerumitan-kerumitan hidup yang ia dapati menuntunnya menghadap cahaya Ilahi.

SUARA MALAM

Dunia badai dan topan
Manusia mengingatkan, “Kebakaran Hutan”
Jadi ke mana
Untuk damai dan reda?

Mati.

Barang kali ini diam kaku saja
dengan ketenangan selama bersatu
mengatasi suka dan duka
kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar

Seperti kapal pecah di dasar lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada
dan sekali akan menghadap cahaya.
……………………………………………….
Ya Allah! Badanku terbakar — segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

Februari, 1943

Puisi “Suara Malam” yang ia ciptakan menggambarkan bagaimana ia harus bertahan melawan hidup dalam pengembaraannya sebagai makhluk. Badai dan topan kehidupan ditemuinya dalam setiap langkah. Kegetiran yang dirasakan oleh Chairil tidak lantas menjadikannya menyerah dan putus langkah. Dalam kesadaran penuh, Chairil menyebut Tuhannya; tanda bahwa puncak kegelisahan hamba adalah kesadaran ketika tiada lagi yang bisa menolong kecuali Tuhannya. Tuhanlah penolong hambanya, dan Tuhan adalah sebaik-baiknya tempat untuk bersandar (QS. Ali Imran:173).

Beberapa coretan di atas merupakan tafsir terbatas mengenai puisi-puisi Chairil yang dapat saya tuliskan sebagai bahan pengantar dialog kita bersama pada pagi hari ini. Keterbatasan dapat mengantar kita kedalam alam berpikir yang penuh tanda tanya. Oleh karena itu, besar harapan saya kepada teman-teman untuk ikut terlibat dalam kegelisahan dan akan lebih baik jika ikut terjebak dalam alam tanda tanya seperti yang saya alami.

Salam, Terimakasih.

One Reply to “Ketika Chairil Anwar Bertemu Tuhan dalam Puisinya”

  1. “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” sepertinya merupakan salah satu doa Chairil Anwar yang tak dikabulkan.

    Menurut saya, tergantung darimana kita memandang. Jika dilihat dari sudut harfiah, maka Khairil mati muda, tidak sampai seribu tahun sebagaimana yang ada pada teks puisi. Namun, jika ditelusuri dari makna puisi, dimana puisi atau sajak lebih syarat makna metafor (makna yang jauh lebih mendalam), maka Khairil akan terus hidup hingga waktu yang tidak terbatas. Bahkan, hingga detik ini dan waktu-waktu selanjutnya sajak-sajak Khairil tetap hidup di hati-hati kita dan para penyair.

    Intinya, hidup seribu tahun bisa diartikan sebagai kehidupan maknawi yang tidak akan mengalami kemandekan waktu, bahkan hingga yaumul qiyamah. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan