Allah pun menolak tuduhan itu secara tegas dalam Surat Yasin ayat 69
وَمَا عَلَّمْنَٰهُ ٱلشِّعْرَ وَمَا يَنۢبَغِى لَهُۥٓ ۚ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْءَانٌ مُّبِينٌ
“Kami tidak mengajarkan syair kepadanya, dan bersyair itu tidak layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.”
Penolakan tersebut penting, sebab jika Al-Qur’an dianggap sebagai syair, maka ia bisa disetarakan dengan kreasi manusia lain. Padahal, yang disampaikan oleh Nabi adalah wahyu dari Tuhan semesta alam, bukan hasil daya cipta sastra biasa. Maka, walau Al-Qur’an mengandung keindahan linguistik, ia tak tunduk pada aturan syair Arab manapun.

Yang menarik, keindahan Al-Qur’an justru membuat para penyair besar Arab terdiam. Labid bin Rabi’ah, salah satu penyair termasyhur zaman Jahiliyah, menghentikan kariernya sebagai penyair setelah mendengar ayat Al-Qur’an. Ia mengakui bahwa tak ada kata-kata yang bisa menandingi firman Tuhan itu. Bahkan, para tokoh Quraisy seperti Abu Sufyan yang saat itu masih memusuhi Islam diam-diam menyelinap malam-malam hanya untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tidak hanya memenangkan argumentasi rasional, tetapi juga menundukkan keindahan rasa dan seni yang tertinggi.
