Sementara itu, Al-Qur’an tidak diam dalam menghadapi tuduhan tersebut. Ia justru menantang, seperti termaktub dalam QS al Isra ayat 88
قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
“Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa, sekalipun mereka saling membantu.” (QS. Al-Isra’: 88).

Bahkan dalam ayat lain, Allah memperkecil tantangan itu menjadi hanya satu surat saja, tetapi tetap tidak ada yang mampu menandinginya. Inilah yang membuat Al-Qur’an menempati posisi yang tak tergoyahkan, baik dari sisi teologis, retoris, maupun historis.
Kini, meski kita hidup di zaman yang berbeda, tantangan terhadap firman Tuhan tetap ada. Di tengah badai informasi, Al-Qur’an tetap hadir sebagai penuntun. Ia bukan sekadar kitab yang indah dibaca, tetapi juga mengandung petunjuk hidup yang tak lekang oleh waktu. Keindahan dalam Al-Qur’an bukan untuk memukau semata, tetapi untuk menggerakkan hati menuju kebenaran dan keadilan.
