Meskipun aku tak benar-benar mendengar, jika Pak Robert mengucapkan kata pamit. Dalam benakku masih mengais-ngais perkataan yang tadi sebelum dia mengucapkan kalimat pamit. Dia berlalu. Aku masih berdiri di tempat, menengok ke arah belakang. Lelaki itu masih tak jauh dariku. Dia menoleh ke belakang, tepatnya menoleh ke arahku. Secepat mungkin aku membalik arah. Lalu berjalan.
***

Beberapa hari lalu, warga mengadakan kerja bakti. Mereka bergotong royong untuk merenovasi gereja yang ada di kampungku. Mereka saling berbaur, seperti tak ada batasan perbedaan keyakinan. Saling membantu, saling menghargai. Dulu ketika masjid kekurangan dana untuk pembangunan, orang-orang gereja, termasuk Pak Robert dan Bu Kris membantu untuk pembangunan masjid. Bu Kris menjual kalungnya untuk pembangunan masjid. Pak Robert menjual tiga ekor kambingnya untuk membantu pembangunan masjid. Kami hidup berdampingan dengan rukun.
Sore nanti mereka mengadakan buka bersama sekaligus menjalin silaturahmi antarwarga. Sebetulnya ini adalah jembatan untuk mempererat jalinan persaudaraan antarwarga. Gereja satu-satunya yang ada di kampungku baru akan diresmikan sore nanti. Dari itu mereka mengundang kami, untuk meresmikan gereja sekaligus buka puasa bersama.
Sepulang dari pasar, aku mendengar suara gaduh seperti orang bertengkar. Dari pelataran rumah, aku berdiri, terhenyak. Jantung ini terasa berdetak tak biasa. Suara itu sudah akrab sekali dengan telingaku. Dugaan kuat menyelimuti dadaku. Pasti ibu dan ayah sedang bertengkar, gumamku.
Hatiku merajuk mendengar ibu dan ayah bertengkar. Mungkin akan lebih baik jika aku segera masuk dalam rumah dan melerainya.
“Ada apa ini, Bu, Yah? Apa tidak malu dengan tetangga. Lagi pula ini bulan puasa, masak bertengkar,” tegurku.
“Ayahmu, melarang ibu pergi ke gereja untuk buka puasa dengan para tetangga. Ibu hanya bertanya, mengapa tidak boleh, eh, malah marah-marah tidak jelas. Padahal Rasulullah dulu berteman dengan orang-orang kafir. Itu menjadi bukti bahwa tak ada larangan untuk saling bersaudara walaupun dengan orang yang tak seiman dengan kita, ” sahut ibu.
Ayah terdiam. Dahinya mengernyit, pandangannya tertunduk. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sorot matanya tajam, menakutkan. Entah, apa yang akan dia lakukan. Aku berharap tak ada lagi perbedaan pola pikir. Kalau pun ada, aku berharap tak ada konflik yang timbul karena agama.
Aku masih berdiri di hadapan mereka. Ibu tak henti-hentinya istighfar. Setelah jeda waktu beberapa menit. Kami saling diam. Sesekali angin dari arah pintu berdesir segar. Tempias cahaya matahari masuk lewat pintu dan celah-celah jendela. Aku sibak gorden berwarna kuning yang dari pagi belum sempat terbuka. Cahaya hangat menabrak wajahku.
“Pokoknya ibu tidak boleh pergi ke gereja itu,” ucap ayah terdengar.
Seketika aku menoleh ke arah ayah. Aku mendengar suara ayah bernada membentak. Ibu hanya diam seribu bahasa, seperti ketakutan. Aku merasa ayah seperti orang yang tidak waras. Seringkali ayah marah-marah tanpa sebab. Kasar kemudian bersikap lembut, entahlah aku juga tidak mengerti dengan sikap ayah yang selalu berubah-ubah.
***
Aku dengan Leo sudah berteman akrab, dari mulai SD sampai saat ini. Hubungan kami terus berlanjut, hingga aku tak tahu dengan perasaan ini. Entah, mengapa hati ini terasa bahagia saat kami bersama. Mungkin Leo punya perasaan yang sama, sehingga ada kontak di antara kami.
Ya, mungkin saja aku telah terkena virus merah jambu pada lelaki bermata sipit itu. Dalam bahasa cinta, cinta tak memandang perbedaan, hanya hati yang mengerti tentang rasa. Aku membuka lemari baju. Dari situ aku mengambil sebuah bingkisan berwarna merah muda dengan sedikit hiasan pita yang mengikatnya. Sederhana, tetapi menjadi sesuatu yang manis.
Leo memberikan bingkisan ini seminggu yang lalu. Berisi mukena. Aku pandang lekat-lekat mukena itu. Dia berpesan, saat sholat ied nanti, harus aku pakai.
