Aku menatap mukena itu, antara percaya dan tidak. Semua itu seperti mimpi di siang bolong. Sekilas bayangan-bayangan jurang dalam begitu nyata. Aku dengan Leo tak mungkin bersatu. Aku percaya bahwa aku tak selalu harus percaya dengan kemustahilan. Aku percaya keajaiban, aku percaya dengan kemahaan-Nya.
Tuhan mudah untuk membalikkan segalanya. Agama kami adalah agama warisan. Semuanya sudah kehendakNya. Semua adalah kekuasaan-Nya.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Ketukan itu datang lagi.
“Masuk!”
Ayah membuka pintu.
“Ayah pamit dulu,” ucapnya.
“Memangnya ayah mau pergi ke mana,” tanyaku.
“Ayah ada urusan,” tutumya sambil membelai rambutku.
Aku merasa tatapan ayah terasa aneh. Ayah menatapku dengan penuh kesenduan. Tiba-tiba dia memelukku. Belaian tangannya begitu halus. Guratan-guratan di wajahnya sayu, seakan ini adalah perpisahan. Aku menemukan gelagat yang janggal. Dia melepaskan pelukannya.
“Ayah berangkat dulu ya,” ucap ayah sambil menyarangkan kecupan hangat di keningku.
Kemudian aku mengantar ayah ke halaman rumah. Ibu muncul dari belakang, sambil terisak. Ayah melambaikan tangan kepada kami. Aku membalas. Dia berangkat. Rongga dadaku masih bercokol perasaan tidak tenang. Pikiran-pikiran negatif pun muncul seiring keberangkatan ayah.
Aku duduk di sofa ruang tengah sambil menonton tv. Pukul lima sore mulai beranjak. Sore mulai gelap. Terdengar suara beduk. Aku segerakan berbuka puasa. Kemudian terdengar suara ledakan dahsyat. Langit pun menjadi merah seperti ada yang terbakar, disusul oleh kabut hitam menggumpal. Apa yang sebenarnya terjadi? Gumamku bertanya pada batin.
Selang beberapa menit, suara ambulan terdengar riuh disusul sirine polisi. Aku terenyak sebentar. Sempat bertanya pada hati, apa yang terjadi. Terhampar pikiran-pikiran kacau. Aku tak henti-hentinya berharap, semoga tak ada sesuatu yang membuat air mataku jatuh.
Selesai berbuka puasa, aku melihat siaran televisi, telah terjadi bom bunuh diri di gereja Santo Rahmani. Semua korban yang berada di dalam gereja banyak yang tewas dan beberapa luka-luka.
Mataku mulai memanas, berujung jatuhnya air mataku. Dadaku sesak. Seketika pandanganku buram. Tubuhku terasa lemas seketika. Hatiku bertanya-tanya, bagaimana nasib Pak Robert, dan keluarganya? Bagaimana dengan saudara-saudaraku yang lain? Sementara itu ayah tidak ada di rumah dan tidak ada yang tahu keberadaannya. Dalam pikiranku yang sedang kalut, terbesit bahwa ayah ada di antara mereka.
ilustrasi: pikist.
