KH Ahmad Siddiq, Perumus Pilar Relasi Agama-Negara

Bagi Nahdlatul Ulama (NU), persoalan hubungan antara agama dan negara, Islam dan Pancasila, sudah selesai. Hal itu terjadi ketika Pancasila diterima sebagai satu-satunya asas dalam bernegara. Solusi cerdas itu buah dari pemikiran KH Ahmad Siddiq.

KH Ahmad Siddiq merupakan salah satu ulama terkemuka di zamannya. Lahir di Talangsari, Jember, Jawa Timur pada Ahad Legi 10 Rajab 1344H/24 Januari 1926M dengan nama kecil yang Ahmad Muhammad Hasan. Bersamaan dengan kelahirannya, sebuah organisasi besar bernama Nahdlatul Ulama berdiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia lahir dari pasangan suami istri KH Muahmmad Siddiq dan Nyai Hj Zaqiah (Nyai Maryam). Jika ditelisik nasabnya, Kiai Ahmad Siddiq masih memiliki keturunan darah biru dari Kerajaan Pajang. Ayahnya tidak lain adalah anak dari Kiai Abdullah Lasem bin Kiai Muhammad Shaleh Tirtowijoyo, putra kiai As’ary, putra Kiai Adra’i, putra kiai Muhammad Yusuf (mbah Sambu), putra dari Raden Sumonegoro, putra dari raden Pringgokusumo/Adipati Lasem III, putra dari Pangeran Benowo I, putra dari Sultan Hadiwijoyo atau yang kerap dikenal dengan nama Joko Tingkir.

Namun, di usianya yang terbilang masih sangat muda, 4 tahun, ia ditinggal ibu kandungnya wafat saat perjalanan pulang dari tanah suci. Tidak berselang lama, ayahnya juga wafat saat Kiai Ahmad Siddiq masih berumur 10 tahun.

Sejak yatim piatu, kakaknya yang menggantikan posisi ayah serta ibunya untuk mengasuh Kiai Ahmad Siddiq kecil. Sehingga ada yang menduga bahwa Ahmad kecil mewarisi sifat dan gaya berpikir kakaknya, sabar, tenang, dan sangat cerdas. Wawasan berpikirnya sangatlah luas, baik dari segi ilmu agama maupun pengetahuan umum.

Terlahir dari darah priayi membuatnya memiliki pengalaman keagamaan yang banyak. Sebelum pada akhirnya memasuki dunia pesantren, KH Ahmad Siddiq telah menempuh pendidikan di sekolah Rakyat Islam di wilayah Jember. Setelah lulus sekolah dasar, ia menimba ilmu di Pondok Pesantren as-Siddiqiyah Jember atas asuhan ayahnya sendiri, KH Muhammad Siddiq. Di sana pendidikan ayahnya terbilang ketat dengan mewajibkan salat jamaah lima waktu kepada anak-anaknya. Di tempat yang sama, Kiai Ahmad Siddiq kecil belajar mengaji kitab kuning kepada kakaknya (Kiai Mahfudz Siddiq).

Terakhir KH Ahmad Siddiq nyantri di Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh KH Hasyim Asyari. Kepribadiannya yang tenang itu menjadikannya disegani oleh teman-temannya. Di Pondok Tebuireng itu pula, Kiai Ahmad Siddiq berkawan dengan KH Muhith Muzadi yang kelak akan menjadi mitra dalam berdiskusi mengenai konsep strategis fikrah Nadliyah (sistem berfikir NU). Di sinilah tempatnya menghimpun berbagai ilmu di sebuah Madrasah Nidlomiyah yang dibina langsung oleh KH Wahid Hasyim.

Gaya bicaranya yang khas dan memikat dalam khutbah membuatnya dikagumi banyak santri termasuk KH Wahid Hasyim. Di sisi cerdas, ia juga mahir dalam mengetik serta menulis. Kecerdasan dan kewibawaannya menjadikannya dekat dengan KH Wahid Hasyim, hingga pada masanya Kiai Ahmad Siddiq pernah diamanati menjadi sekertaris pribadinya, mulai dari MIA (Majelas Islam A’la Indonesia), Nahdlatul Ulama, hingga Mentri Agama. Bahkan kepercayannya terhadap Kiai Ahmad Siddiq membuatnya mendapat amanat untuk menyusun sebuah konsep dalam sebuah bidang keilmuan dan agenda penting lainnya. Termasuk kurikulum yang ada di Pesantren Tebuireng.

Dalam kesempatan tersebut KH Ahmad Siddiq menjadi salah satu santri yang dikader oleh KH Hasyim Asyari, yang diberi nama “ Kelompok Intelektual Santri”. Keterlibatannya dalm forum tersebut, kelak akan menjadikannya lebih mudah mengenal berbagai macam keilmuan. Adapun tujuan kegiatan tersebut tidak lain adalah untuk mendiskusikan perkembangan politik nasional dalam skala besar.

Pemikiran KH Ahmad Siddiq

Tinggalkan Balasan