KH Hasyim Asy’ariy dan Kesetaraan Jender

Di sisi lain, Khuluq mengutip dalam buku Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH Hasyim Asy’ariy yang mengurai tentang pentingnya pengaruh Hadratussyaikh dalam pemikiran keagamaan Islam di Nusantara. Pengaruh pemikiran keagamaan Hadratussyaikh tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, ide-ide beliau yang dikemukakan dalam tulisan pada karyanya kurang berpengaruh dibandingkan dengan yang disampaikan melalui pidato-pidatonya. Pengaruh tulisan hanya terbatas pada muslim tradisional, khususnya masyarakat pesantren pada masa awal publikasinya.

Hal ini dimungkinkan karena dua faktor. Pertama, karya tulis beliau lebih banyak mengupas tentang aspek teologis maupun ilmu agama murni, seperti sufisme dan fikih yang merupakan hal yang biasa digeluti oleh kalangan tradisionalis. Kedua, karya-karya ini ditulis dalam bahasa Arab atau Jawa dengan huruf Arab atau dikenal dengan pegon. Penggunaan bahasa Arab mempunyai pengaruh yang cukup penting untuk menarik minat pembaca dari kalangan masyarakat pesantren yang lebih menghargai bahasa Arab daripada bahasa lain. Sebaliknya, pidato Hadratussyaikh berpengaruh pada masyarakat yang lebih luas termasuk muslim modernis-nasionalis sekular. Hal ini dikarenakan pidato tersebut sering kali dipublikasikan di surat kabar dalam bahasa Melayu (Indonesia) yang menjadi bahasa nasional masyarakat Indonesia (Lingua Franca).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam pada itu, kalau kita amati pengaruh Hadratussyaikh sangat kuat di kalangan pesantren secara langsung karena jargon utamanya adalah melestarikan ajaran Islam melalui kitab kuning. Tetapi, tidak menutup kemungkinan Hadratussyaikh mempunyai cara tersendiri yang sampai saat ini belum ditemukan tentang bagaimana mendidik masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan pesantren. Mungkin bisa dengan kumpulan-kumpulan orang dengan polesan adat dibarengi penanaman nilai Islam, sehingga nuansa pemahaman ke-Islaman masyarakat Hindu-Budha sangat kental pada masing masing individu. Pemahaman model gerakan kultural lebih masif diimplementasikan dengan tidak menghilangkan pendekatan struktural melalui ngaji di Pesantren Tebuireng atau pesantren yang berafiliasi dengan Tebuireng.

Dengan kealiman yang dimiliki, Hadratussyaikh memberikan pijakan yang berlandaskan al-Quran dan hadits tentang banyak hal. Salah satu yang sangat esensial adalah bagaimana Hadratussyaikh memberikan gambaran berbeda soal posisi perempuan secara universal yang mengacu pada kalam kalam Kanjeng Nabi.

Perempuan mendapatkan porsi lebih di mata beliau hingga gagasan tentang kesetaraaan jender diinterpretasikan dengan apik lebih-lebih ketika perempuan dikonfrontasikan dengan pendidikan. Pendidikan menjadi penentu bagaimana perempuan ke depannya. Karena, perempuan berhak untuk mengembangkan dirinya melalui pendidikan, sehingga ia dapat bersama-sama dalam mendidik anak-anak. Bahkan, tidak menutup kemungkinan negara dibangun dengan perasan keringat perempuan di balik suksesnya Founding Fathers negeri ini.

Tinggalkan Balasan