Hadratussyaikh, seperti dikutip Mukminin pada buku Hadratusy Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ariy al Jombangi, memandang perempuan tidak hanya sebagai konco wingking yang tidak mempunyai peran lebih dalam masalah pendidikan. Beliau sangat memperhatikan masalah tersebut, bahkan perempuan mempunyai tempat khusus di mata Hadratussyaikh.
Menurut KH Ishom, Hadratussyaikh menganggap bahwa perempuan sebagaimana disebut oleh Kanjeng Nabi sebagai imad daulah (tiang negara). Konsep tersebut diucapkan ketika berlangsungnya muktamar, bahkan tidak sedikit kiai yang menentang dan tidak sepaham serta menggugat gagasan tersebut. Namun, bakat intelektual serta kealiman Hhadratussyaikh, kemusykilan yang sempat tumbuh bisa dijawab dengan lugas dan tegas dengan data historis dan dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Ide tersebut diabadikan dalam karya beliau yang berjudul Ziyadut Ta’liqat.

Di sinilah pendidikan jender secara tidak langsung ditanamkan oleh Hadratussyaikh. Kesetaraan dalam memperoleh pendidikan menjadi argumentasi yang tidak kalah penting tanpa meninggalkan data-data historis yang mendukung. Tentunya, perbedaan pendapat menjadi keniscayaan tak terbantahkan saat itu. Hadratussyaikh mengajari arti kesetaraan dalam perspektif pendidikan dengan tidak memandang laki-laki sebagai pihak superior, sedangkan perempuan sebagai inferior.
Tetapi, amat sangat disayangkan, kesetaraan yang digaungkan oleh Hadratussyaikh semakin memudar dengan minimnya pemahaman sebagian kalangan yang kurang komprehensif. Perempuan di mata pesantren bukan dilihat dari soal memperoleh pendidikan an sich. Tetapi, dari bagaimana tonggak estafet kepemimpinan perempuan bisa dipahami secara proporsional komprehensif.
Ala kulli hal, Hadratussyaikh mengajari kita semua tentang banyak hal. Mulai keislaman, politik kebangsaan, kesetaraan perempuan, dan urgensitas pendidikan sebagai langkah maju mengenyam peradaban, pentingnya fikih sebagai aturan umat muslim melangkah mencari ridho Ilahi dan etika pencari ilmu serta sosialisasi yang dibutuhkan demi ilmu pengetahuan. Semoga, kita semua mampu meneladani ibrah yang melekat pada diri Hadratussyaikh sekaligus pemahaman yang utuh untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dan bermartabat. Wallahu A’lam.
