KH Muhammad Nur merupakan santri dari Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep. Bahkan, KH Muhammad Nur berguru langsung KH Syarqawi. Muhammad Nur tergolong sebagai santri yang haus akan ilmu. Terbukti, meskipun sudah menikah dan membangun keluarga sendiri, Muhammad Nur tak pernah berhenti mengaji.
Setelah beristri, ia menjadi santro kalong. Saban waktu datang ke Pondok Annuqayah untuk sorogan, mengaji langsung kepada gurunya, KH Syarqawi. Ilmu yang diperolehnya itu kemudian diamalkan dan diajarkan kepada masyarakat di kampung barunya.

Masyarakat Desa Moncek Tengah kemudian mengenalnya sebagai kiai rendah hati, wara, dan penuh tawadhuan. Kiai Nur, demikian masyarakat setempatnya memanggil namanya. Saban bepergian, Kiai Nur memang biasa menunggangi seekor kuna. Namun, ketika berpapasan dengan orang-orang desa, Kiai Nur selalu beruluk salam dan turun dari kudanya. Setelah agak jauh, barulah ia menaiki kudanya kembali.
Itulah salah satu akhlak Kiai Nur yang dikenal masyarakat hingga kini. Dengan akhlak yang mulia itu, banyak masyarakat menerima ajakan dan apa yang diajarkan Kiai Nur dengan lapang dada. Saat itu, masyarakat desa Moncek Tengah memang masih terbilang jauh dari nilai-nilai yang diajarkan Islam. Kebanyakan warga desa masih buta aksara, dan tak bisa mengaji Al-Quran. Saat itu, masyarakat setempat juga belum melaksanakan kewajiban lima waktu karena tak mengetahu tata caranya.

Super mantabbb,,,
ro niroh panjenenengan..😄
Aiss,,, onguwen napa? Salam dha’ Ke Ali,,,