KH Muhammad Nur (1): Lentera di Pedalaman

Yang memprihatikankan, hingga saat itu belum ada satu pun musala di desa itu, apalagi masjid atau pondok pesantren. Untuk kali pertama, Kiai Nur akhirnya menginisiasi pendirian musala di desa itu. Maka dibangunglah musala sederhana, yang tiang-tiangnya terbuat dari batang-batang kayu dan dindingnya dari anyaman bambu.

Di surau sederhana inilah kemudian Kiai Nur mengajak masyarakat untuk belajar baca-tulis, mengaji Al-Quran, dan salat lima waktu. Termasuk, mengajari cara berwudhu yang benar, perihal bersuci dari najis, cara bermuamalah, dan lain sebagainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Memulai perjuangan memang tak pernah mudah. Itu pula yang sesungguhnya dialami Kiai Nur ketika memulai berdakwah di Desa Moncek Tengah. Sebab, tak semua orang di desa itu menerima perubahan dengan lapang dada. Selalu ada yang menjadi kerikil di jalan perjuangan. Bahkan, tidak jarang Kiai Nur mendapat ancaman yang bisa mengancam dakwah dan bahkan nyawanya.

Namun, berkat kesabaran dan kegigihannya, sedikit-demi sedikit mayoritas masyarakat Desa Moncek Tengah mulai menerima akan nilai-nilai keislaman yang diajarkan Kiai Nur. Hingga akhirnya, pada tahun 1940, Kiai Nur bersama masyakat pedalaman Desa Moncek secara bergotong-royong mulai membangun masjid untuk ditempati salat Jumat. Sedangkan, musala yang semula digunakan untuk salat dan ngaji, dijadikan tempat belajar kitab dan tempat tidur para santri yang mulai mondok.

3 Replies to “KH Muhammad Nur (1): Lentera di Pedalaman”

Tinggalkan Balasan