KH Yazid Karimullah, Pemimpin yang Gigih, Telaten, dan Konsisten

Kebiasaan lain Kiai Yazid saat mondok adalah selalu memerangi rasa kantuk. Beliau seringkali memilih tidur dalam posisi duduk di jalan para santri menuju masjid. Kebiasaan ini sering beliau lakukan dengan maksud untuk menghilangkan atau membuang rasa kantuknya. Tentunya para santri yang lewat ada yang melangkahi beliau, dan ini dapat membantu dalam menggapai misinya tersebut.

Termasuk kebiasaan beliau saat nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, selalu minta maaf kepada Kiai As’ad demi keberkahan ilmu dan mendapat berkah kiai. Di pondok, Kiai Yazid juga sering mengurangi porsi makan. Sebab bilamana makan, terus kekenyangan maka rasa kantuk akan mulai menyergap dan akhirnya malas untuk belajar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sungguh terbukti hasil kerja keras beliau dalam berbakti kepada guru. Beliau selalu menyampaikan ketika memberi wejangan hangat kepada para santri, bahwa pesantren yang berdiri begitu megahnya ini (Pondok Pesantren Nurul Qarnain), nama beliau yang menjadi populer ke segala penjuru, para santri yang datang berduyun-duyun serta kesuksesan beliau dalam menata masyarakat, ini semua sebagai buah hasil dari pengabdian beliau selama mencari ilmu, lebih-lebih saat nyantri di Sukorejo.

“Coba bayangkan, apa yang ingin saya andalkan? Selembar ijazah pun saya tidak punya. Keahlian khusus juga tidak punya. Ini semua tidak lain karena barakah Kiai selama saya mondok,” tutur beliau.

Pada 1961, saat Kiai Yazid berumur 11 tahun, cita-cita untuk memiliki pesantren sudah tergambar dalam pikiran beliau. Maka, pada 1966, ketika berumur 16 tahun, saat masih nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, barulah beliau melangkah mendirikan pesantren yang saat itu diberi nama Pesantren Karang Sawu. Dinamakan Karang Sawu karena di pekarangan tersebut terdapat pohon sawu.

Awal berdirinya pesantren, yang menjadi santri adalah putra-putri masyarakat di dusun Sumberpodak dan Sumbergayam. Ketika itu santri dibina langsung oleh abahnya (KH Karimullah) yang dibantu Kiai Yazid yang masih berstatus santri Pesantren Sukorejo, akibatnya beliau rela untuk sering pulang.

Dengan motivasi semangat amar ma’ruf nahi munkar, awal berdiri pesantren ini dibangun dari bahan bangunan yang seadanya yaitu berupa bambu (gedek atau tabing), baik bangunan pondok yang didiami para santri, maupun surau, di atas tanah kurang lebih 104 meter persegi. Bangunan surau tersebut memperoleh dana dari hasil penjualan kambing sebanyak satu ekor.

Agar Pesantren Karang Sawu dikenal oleh kalangan masyarakat, beliau menempuh banyak langkah, di antaranya mengadakan kegiatan minimal 2 kali dalam 1 tahun, yaitu setiap tanggal 20 Sya’ban dan 12 Rabi’ul Awal yang diawali dengan kegiatan-kegiatan lomba. Sebagai acara puncak dari kegiatan lomba tersebut beliau mengadakan pengajian yang diisi oleh sebagian besar pengasuh pondok pesantren se-kecamatan Sukowono.

Termasuk langkah yang juga ditempuh untuk semakin dikenal masyarakat, beliau membentuk Jami’atul Qura yang dikemas dengan acara membaca Al-Qur’an dan kasidah-kasidah Islam, juga membentuk Orkes Gambus sebagai pelengkap. Metode ini nyatanya juga membuahkan hasil yang memuaskan. Masyarakat menjadi terpikat. Banyak sekali yang berminat untuk mengundang, baik di daerah Sukowono maupun di daerah lain, seperti Kecamatan Tamanan, Grujugan, dan Kabupaten Bondowoso. Dengan demikian, nama Pondok Pesantren Karang Sawu semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Pada 1968, dengan petunjuk Allah, nama Pesantren Karang Sawu diubah dengan nama Pondok Pesantren Darul Ulum. Beberapa waktu kemudian lembaga ini terdaftar di Departemen Agama Pusat dan resmi sebagai lembaga pesantren. Dengan legalitas status tersebut, respons masyarakat terhadap keberadaan pesantren semakin meningkat, yang diwujudkan dengan keikutsertaan masyarakat dalam perjuangan mulia.

Tinggalkan Balasan