KH Yazid Karimullah, Pemimpin yang Gigih, Telaten, dan Konsisten

Perkembangan selanjutnya, tepatnya pada 28 Juni 1979, Pondok Pesantren Darul Ulum diganti dengan nama Pondok Pesantren Nurul Qarnain hingga sekarang. Dan pada 1982, Pondok Pesantren Nurul Qarnain Desa Baletbaru, Kecamatan Sukowono ini telah terdaftar di Kantor Departemen Agama RI pusat, dengan nomor induk 0844, di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Nurul Qarnain,  Akte Notaris Nomor 13, Notaris Soesanto Adi Poernomo, bertanggal 3 Februari 1982.

Saat itu kondisi Pesantren Nurul Qarnain masih sangat sederhana, Kiai Yazid sudah buat setplan sekaligus gambar untuk lokasi strategis pengembangan pesantren. Beliau gambar dalam satu kertas, padahal saat beliau buat gambar tersebut area pondok masih berupa sawah-sawah. Dan sawah-sawah itu adalah milik orang lain. Masih belum diketahui, apakah tanah tersebut akan dijual oleh pemiliknya atau tidak. Ternyata, gambar yang beliau buat saat itu sesuai dengan kondisi nyata pondok pesantren saat ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berkat ketekunan, konsistensi, dan semangat tinggi beliau, jumlah santri setiap tahunnya semakin bertambah. Di awal 2022 ini, santri Nurul Qarnain kurang lebih 2.000 orang. Di antara mereka berasal dari Kabupaten Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Lumajang, Gresik, Pasuruan, Sidoarjo, Madura, bahkan ke luar provinsi, seperti Jawa Barat, Kalimantan, Sumatera, Aceh, Sulawesi, NTT, NTB, Bali, Kepulauan Riau, dan Kuala Lumpur Malaysia. Lembaga yang bernaung di dalamnya sudah terbilang lengkap, yaitu dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga pendidikan tinggi (Ma’had Aly dan STIS).

Gelar khadimul ma’had atau khadimut thalabah sepertinya tidak salah jika disandangkan kepada KH Yazid Karimullah, karena setiap kebutuhan santri, beliau selalu berusaha untuk memenuhi. Sampai urusan sampah pembalut sekalipun ada dalam pikiran beliau. Sudah tidak jarang santri melihat, beliau sering berada di tempat sampah, membersihkan, mengurai dan membakar bagian-bagian yang kering.

Beliau selalu menyampaikan wejangan-wejangan hangat pengobar semangat. Memberikan motivasi kepada santri terutama kepada para pemangku amanat (pengurus pesantren, dewan guru dan asatiz) untuk tidak khianat. Apapun yang dilakukan akan sukses jika telaten, ikhlas, dan penuh semangat. Investasi manusia adalah lebih utama dari pada investasi harta.

Oleh karenanya, konsep yang tertanam dalam jiwa beliau adalah menjadikan pesantren sebagai basis pendidikan moral dan iman. Manusia harus dididik dengan moral yang baik, sebab jika tanpa moral mustahil akan ada kebenaran. Pun juga harus memiliki iman yang kuat hingga menjadi insan yang shalih-shalihah dan selalu al-qa’im bi huquqillah. Beliau pernah menyampaikan tentang kemauannya yang tinggi dan pantang menyerah untuk dapat menelurkan kader-kader yang berilmu dan bertaqwa, agar para santri setelah kembali ke masyarakat bisa hidup bahagia, menguasai kehidupan dunia terlebih pula menguasai kehidupan akhirat.

Memang perlu mendapat acungan jempol bahwa jangkauan wawasan masa depan Kiai Yazid jauh menerawang ke angkasa raya, tangannya menggapai-gapai ingin memadukan bulan dan bintang agar bisa menyinari alam semesta dari kegelapan dan kebodohan, hatinya berontak mencuat keluar dari gubuk-gubuk keterbelakangan dan keterkungkungan, naluri darah mudanya deras mengalir membasahi sawah ladang yang kering kerontang akibat pergeseran nilai-nilai budaya dan peradaban.

Fokus permasalahannya dituangkan dalam satu tekad bulat menempa pribadi santriwan-santriwati yang kelak di kemudian hari mempunyai wawasan berdimensi nasional dengan dibekali ilmu pengetahuan agama dan umum sehingga menjadi pribadi muslim yang siap mengabdi pada agama, nusa dan bangsa.

Itulah hasil karya KH Yazid Karimullah pengemudi Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Hal ini tidak berarti mulus jalannya, stabil lajunya, namun kadangkala terbentur kerikil-kerikil tajam. Namun, segala permasalahan yang ada bisa diatasi melalui cara berdoa dan tawakal kepada Allah Swt.

Tinggalkan Balasan