Khat Diwani, Sejarah dan Perkembangannya

Di kemudian waktu, tulisan jenis ini disempurnakan oleh Menteri Ahmad Syahlan Basya, dan ia juga yang berjasa mempopulerkannya di kalangan masyarakat Turki Usmani pada saat itu. Selanjutnya, kaligrafi diwani membentuk aliran tersendiri, melalui seorang kaligrafer bernama Muhammad Izzat At-turki yang mempunyai gaya dan cara penulisan yang unik.

Setelah menyebar ke berbagai wilayah Turki Usmani, tulisan ini mulailah berkembang. Di Mesir, kaligrafi ini dikembangkan oleh Mahmud Syukri Basya Al- Misri, seorang dewan kerajaan Turki Usmani di Mesir. Dari Mahmud Syukri ini, muridnya yang bernama Musthafa Ghazlan Bik, akan membawa kaligrafi diwani ke puncak keindahannya dengan membuat metode baru dalam penulisan kaligrafi diwani, yang berbeda dengan pendahulunya, yaitu Muhammad Izzat at-Turki.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Metode baru yang dikembangkan oleh kaligrafer bernama Ghazlan Bik ini hampir-hampir membuat kaligrafi ini disebut “kaligrafi Ghazlaniy”. Dengan demikian, ada dua metode dalam kaligrafi khat diwani ini.

Pertama, metode Muhammad Izzat At-Turki yang kemudian waktu dikenal dengan metode Utsmani, dengan ciri-ciri tulisan yang lebih rapat, ukuran huruf yang kecil sama seperti riq’ah dan sangat patuh pada garis.

Kedua, metode Ghazlan Bik yang lebih dikenal dengan metode Mesir dengan ciri tulisan yang lebih renggang serta bebas dan tidak patuh terhadap garis.

One Reply to “Khat Diwani, Sejarah dan Perkembangannya”

Tinggalkan Balasan