Khat Diwani, Sejarah dan Perkembangannya

Dari kedua metode ini lalu muncullah seorang kaligrafer yang bernama Muhammad Hasyim Al- Bagdadi yang menggabungkan dua metode, yaitu metode Muhammad Izzat dan metode Ghazlan Bik. Metode ini di kemudian hari dikenal dengan metode Irak.

Dalam perkembangannya, kaligrafi diwani ini terbagi kepada tiga bentuk. Bentuk pertama adalah Khat Diwani ‘Adi. Diwani ‘Adi merupakan gaya khat yang biasa tampil (‘adi) sesuai dengan struktur tulisan sehingga mudah dibaca. Ciri tampilannya tampak pada kaki-kaki tulisan yang umumnya berbaris datar sehingga pucuk-pucuk huruf bergelombang dinamis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bentuk kedua adalah Khat Diwani Mutarabit. Gaya diwani ini merupakan diwani yang huruf-huruf dan rangkaian katanya saling berjalin atau bersilangan (mutarabit) satu sama lain. Kaligrafer yang mempopulerkan gaya penulisan Diwani Mutarabit ini adalah Ghazlan Bik. Dan ia menjadi tokoh utama dalam penulisan diwani gaya Mutarabit ini, sehingga gaya penulisan Ghazlan Bik dijadikan acuan bagi kaligrafer yang akan sesudahnya.

Terakhir, bentuk ketiga adalah Khat Diwani Jali. Diwani Jali diciptakan oleh Syahlan Pasha dari Turki Utsmani dan merupakan pengembangan dari Diwani Adi. Kata “jali” sendiri berarti jelas, kejelasan tersebut tampak pada detailnya syakal yang penuh di dalamnya disertai dengan titik-titik kecil di setiap hurufnya. Tujuan diciptakannya Diwani Jali ini untuk menuliskan peraturan-peraturan kesultanan dan surat-surat keluar negeri pada masa dinasti Turki Utsmani ketika itu.

One Reply to “Khat Diwani, Sejarah dan Perkembangannya”

Tinggalkan Balasan