Khidmat, Isra Mikraj di Darul Muqorrobin di Tengah Banjir

“كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ”. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Ada dua perkataan yang ringan diucapkan oleh lidah, berat di timbangan, dicintai oleh ar Rahman; subhãnallôhi wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian bagi-Nya) subhãnallõhil’adzhim (Maha Suci Allah lagi Maha Agung).” (Muttafaqun ‘Alaihi).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebelum menutup wejangannya, Abuya mengajak seluruh jamaah berdoa agar para santri menjadi putra-putri yang saleh, serta para pengajar diberikan kehidupan yang penuh berkah.

Pondok Pesantren Salaf-Modern Darul Muqorrobin di Kendal, Jawa Tengah, sekali lagi menunjukkan ketangguhan komunitasnya. Di tengah tantangan alam berupa banjir, mereka justru merajut makna yang lebih dalam: bahwa perjalanan spiritual meneladani Nabi adalah upaya terus-menerus untuk memperbaiki diri, menguatkan mental, dan berpegang teguh pada keyakinan.

Tinggalkan Balasan