Khidmat, Isra Mikraj di Darul Muqorrobin di Tengah Banjir

Rintik hujan dan genangan banjir yang menyergap sejumlah kawasan di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (17/1/2026) pagi tak menyurutkan semangat ratusan santri dan civitas Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Muqorrobin untuk memperingati peristiwa agung Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Acara yang digelar di Masjid Al-Munawar kompleks pesantren tersebut berlangsung khidmat dan lancar, menguatkan pesan bahwa spiritualitas tak terbendung oleh aral rintangan duniawi.

Suasana syahdu telah terasa sejak pra-acara dimulai pukul 08.30 WIB, diisi oleh lantunan tim hadrah “Darul Moqorrobin”. Acara kemudian secara resmi dibuka oleh dua siswa Madrasah Aliyah setempat, Najwa Archita Zahra dan Alika Himmatul A, yang bertindak sebagai pemandu acara. Pembukaan diikuti dengan pembacaan Al-Fatihah bersama sebagai ikhtiar kelancaran rangkaian acara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keheningan dan kekhusyukan menyelimuti majelis saat Ananda Ahmad Baihaki, santri asal Batang, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tilawah yang merdu nan ciamik berhasil menyentuh relung hati dan menggetarkan para hadirin yang hadir.

Peringatan tahunan ini dihadiri oleh seluruh komponen pesantren, mulai dari Ketua Yayasan, Ummuna Syarifah Fauziah binti Ali Al-Munawwar, Pengasuh Ponpes Abuya Al-Habib Firdaus bin Masyhur Al-Munawwar, beserta segenap ustaz dan ustazah dari unit reguler dan Madrasah Diniyyah.

Dalam sambutannya, Penanggung Jawab Kema’hadan, Habib Syarif Sultan Husein, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar ritual seremonial. “Kita manfaatkan sebagai wadah refleksi perjalanan istimewa Nabiyyuna Muhammad SAW,” ujarnya, mengajak seluruh hadirin untuk mengambil intisari keteladanan dari peristiwa agung tersebut.

Atmosfer bertambah syahdu seiring dibacakannya Maulid Simtud Durar dan sholawat bersama. Mahalul Qiyam (saat berdiri untuk pembacaan maulid) menjadi puncak harapan akan syafaat Nabi Muhammad SAW.

Puncak acara adalah mauidhotul hasanah (wejangan kebajikan) yang disampaikan langsung oleh Abuya Al-Habib Muhammad Firdaus bin Masyhur Al-Munawwar. Dengan penuh hikmah, Abuya menggarisbawahi keunikan peristiwa Isra Mikraj. “Peringatan ini akan diulang-ulang sampai kiamat, insyaallah. Namun kejadian istimewa Isra wa Mikraj itu sendiri tidak akan terulang untuk kedua kalinya,” tegasnya.

Abuya, sapaan akrabnya, juga memberikan motivasi dan penguatan mental kepada para santri. Diingatkan bahwa untuk menjadi pribadi besar dan hebat, diperlukan kesungguhan, keprihatinan, tirakat, dan kesabaran, sebagaimana perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Dalam wejangannya, Abuya turut mengingatkan keutamaan berzikir dengan menyiratkan kutipan sabda Rasulullah SAW:

“كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ”. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Ada dua perkataan yang ringan diucapkan oleh lidah, berat di timbangan, dicintai oleh ar Rahman; subhãnallôhi wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian bagi-Nya) subhãnallõhil’adzhim (Maha Suci Allah lagi Maha Agung).” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Sebelum menutup wejangannya, Abuya mengajak seluruh jamaah berdoa agar para santri menjadi putra-putri yang saleh, serta para pengajar diberikan kehidupan yang penuh berkah.

Pondok Pesantren Salaf-Modern Darul Muqorrobin di Kendal, Jawa Tengah, sekali lagi menunjukkan ketangguhan komunitasnya. Di tengah tantangan alam berupa banjir, mereka justru merajut makna yang lebih dalam: bahwa perjalanan spiritual meneladani Nabi adalah upaya terus-menerus untuk memperbaiki diri, menguatkan mental, dan berpegang teguh pada keyakinan.

Sebagaimana pesan yang terpampang dalam spanduk acara, peringatan ini diharapkan menjadi pemantik untuk “meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan perintah Allah dan memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik.” Sebuah pesan universal yang bergema lantang, melampaui gemuruh air banjir di luar pagar pesantren.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan