Piramida Putih

Setiap pagi, sebelum ayam berkokok untuk kedua kalinya, ayah sudah berada di halaman belakang rumah. Ia menjejak tanah yang masih dingin, memdorong Argo yang berisi garam basah dengan gerakan pelan dan teratur. Lalu ia mulai mengumpulkan garam itu dan menyusunnya dalam bentuk menyerupai piramida yang berdiri kokoh sebelum Matahari naik. Kami menyebutnya piramida putih.

Bagi oang luar, tumpukan itu tak lebih dari garam yang dikumpulkan dan dijemur. Namun bagi ayah, setiap piramida adalah hitungan hari, apakah kami bisa makan, apakah ibu bisa membeli obat, apakan aku masih bisa sekolah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rumah kami berdiri tak jauh dari pesisir. Angin asin tak pernah pergi. Dinding rumah mengelupas, seng berkarat, dan lantai tanah selalu lembap. Namun ayah tetap menyusun piramida itu dengan kesabaran yang hampir menyerupai doa. Ia jarang berbicara tentang lelah. Jika matahari sudah tepat di atas kepala dan piramida itu berdiri utuh, ayah hanya duduk sebentar, memandang hasil kerjanya, lalu mengusap kening. Baginya, selama piramida putih itu berdiri, hidup kami masih tersambung.

Ayah tidak pernah bercita-cita menjadi pembuat piramida putih. Dahulu, ia adalah petani tambak kecil. Namun tanahnya dijual ketika ibu mulai sering sakit dan biaya pengobatan tak lagi bisa ditunda. Sejak itu, ayah bekerja dengan apa pun yang bisa dilakukan oleh tubuhnya.

Membuat piramida putih bukan pekerjaan ringan. Untuk menjadi garam, lahan harus dikeringkan terlebih dahulu. Lalu menunggu air dengan tingkat keasinan yang tepat untuk dialirkan pada lahan yang telah disiapkan. Lalu menunggu Matahari melakukan tugasnya membantu proses pembentukan garam. Jika cuaca tidak mendukung, maka prosesnya harus diulang dari awal.

“Ayah, kenapa harus bentuk piramida?” tanyaku suatu sore.

Ayah hanya tersenyum tipis. “Karena hidup kita juga disusun pelan-pelan. Kalau tergesa, bisa runtuh.”

Namun waktu tidak selalu bersahabat. Harga garam sering turun tanpa peringatan. Kadang pedagang datang terlambat, kadang tak datang sama sekali. Pada hari-hari seperti itu, ayah memandangi piramida putih lebih lama dari biasanya, seolah berharap bentuknya bisa berubah menjadi uang dengan sendirinya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan