Ki Wadaksi menghardik dengan suara lantang. “Turun! Turun! Bajingan! Setan! Kirik sira!”
Ki Gedeng Suro masih menggelengkan kepalanya. “Maukah tuan berbaik hati membiarkan kami lewat?” katanya.

“Kau tak punya waktu melarikan diri,” ujar Ki Wadaksi sambil mengacungkan pedang. “Aku akan menebas kepalamu membalaskan dendam rajaku!”
“Baiklah, kalau itu maumu.”
Dengan cepat ia mengelak, waktu Ki Wadaksi menyerbunya, dan langsung memukulnya hingga roboh dan menginjak kepalanya. “Sungguh malunya aku di hadapan Tuhan apabila membunuhmu,” ujarnya. “Aku tak mau melukaimu, biarpun hanya seinci. Bangunlah dan anak gadismu berikan pada lelaki yang mencintai.” Dan ia membiarkan Ki Wadaksi tetap hidup.
Lalu melanjutkan perjalanannya ke Pancawala. Di Pancawala ia melihat kemolekan putri Antra Wulan.
“Aku Muhyiddin, utusan Cirebon, diperintahkan datang ke Pancawala, seperti yang diucap Kanjeng Sunan, ‘aku akan terima pemberian paduka raja.’”
“Aku memahaminya,” kata raja. “Aku, Pancawala, ingin agar anakku Antra Wulan dapat diterima sebagai pendamping hidup junjunganku. Dan jika tidak keberatan, aku ingin kau mengantarkan putriku ke Cirebon.”
Ki Gedeng Suro mengangguk tanda setuju. Esoknya ia dan rombongan berangkat menuju Cirebon. Hingga pada suatu ketika, ketika mereka merasa tak cukup kuat lagi berjalan, di lihatnya gubuk di tengah hutan belantara, ia mengusulkan untuk istirahat di gubuk tua itu. “Kita bermalam di sini,” katanya. “Melanjutkan lagi ketika terbangun nanti…” Diperlukan waktu dua hari untuk mencapai Cirebon.
Belum lagi rombongan berjalan, mereka dikejutkan kedatangan Nyi Mas Rara Anten yang meminta Antra Wulan dinikahkan dengan putranya. “Aku keberatan,” kata Ki Gedeng Suro.
