Ki Gedeng Suro

“Kalau begitu kau lawanku,” jawab perempuan sakti itu. “Bersiaplah mati. Sebentar lagi tempat ini akan banjir darah. Orang-orang bahkan tak bakal ingat jasad kalian semua. Aku akan membakarnya.”

“Kau keliru,” jawab Ki Gedeng Suro, “tempat ini, hingga berpuluh-puluh turunanku, akan jadi ramai, tak terhingga banyaknya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perkelahian pun terjadi. Dan Rara Anten dengan pasrah menerima saja kekalahannya. “Aku mengaku kalah.”

Ki Gedeng Suro meninggalkan tempat itu, membiarkan si janda sakti itu, dan melanjutkan perjalanan. Menjelang sore, sampailah mereka. Ia langsung menghadap Kanjeng Sunan di balairung istana. Belum sempat ia bicara banyak, Sunan Gunung Jati langsung menyelanya. “Biar Putri Pancawala jadi istrimu,” katanya. “Bangunlah pedukuhan, pilihlah tempatnya. Aku akan mendoakannya…”

Ki Gedeng Suro menurut. Dan ia memilih membangun pedukuhannya di tengah hutan yang dulu jadi tempat singgah saat perjalanan dari Talaga ke Cirebon. Di kemudian hari dukuh itu dinamai Tegalgubug. Di tempat itu pula ia dikuburkan.

“Kita tahu Mbah Suro sudah mati? Tapi doanya yang dahulu terucap tak pernah pergi,” ujar teman saya di depan pusaranya di Desa Tegalgubug –35 menit dari rumah saya.

“Saya ingat betul saat kecil, desa ini miskin, sebagian besar rumah masih gubuk beratap ilalang, dan berubah ramai dalam waktu sekejap. Pasar Tegalgubug sudah mengubah peruntungan kami.”

“Ya, konon jadi pasar desa terbesar di Asia Tenggara. Omzetnya per hari pasaran (Selasa dan Sabtu) bisa miliaran rupiah. Orang datang dari mana-mana, tak hanya dari desa tetangga, tapi daerah lain yang jaraknya ratusan atau bahkan ribuan kilometer jauhnya. Bukan saja Jawa Barat atau Jakarta. Ada yang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi,” kata saya. “Padahal pasar hanya setengah hari. Lewat itu sepi.”

“Begitulah. Dari tahun ke tahun, sejak 1972, sejak tiga orang penduduk desa, Rokmat, Yusuf, dan Yasin mulai berdagang kain dan menjajakannya ke desa-desa lain, dan sukses, warga lainnya mengikuti jejak mereka. Dan sama majunya. Entah memang kami menyimpan bakat dagang atau karena doa Ki Gedeng Suro.”

Orang-orang tua kami mengatakan, bangunan pasar baru didirikan tahun 1997 di atas lahan hampir seluas 10 hektare. Sebelumnya orang memakai bahu jalan sepanjang hingga satu kilometer lebih.

Tinggalkan Balasan