Kiai Alimuddin: Sosok Zuhud dari Sumenep

Jika dirunut sanadnya, ternyata guru Kiai Alimuddin mayoritas dari habaib. Istilah habaib dari sisi bahasanya merupakan duriiyah Nabi (keturunan Nabi). Maka dari para habaib inilah Kiai Alimuddin menimba berbagai ilmu keislaman. Bahkan ia mendapatkan ijazah khassah tentang zikir, yang mana zikirnya mampu menjadikan manusia menemukan jati dirinya. Sehingga benar apa yang pernah dikatakan Kiai Musahri, bahwa “Kiai Alimuddin di mata para habaib terkenal dengan orang yang sangat wara, tawadhu, bahkan ia dikenal dengan sebutan Al-Arif Billah.”

Setelah sekitar 16 tahun mondok, Kiai Alimuddin akhirnya diizinkan untuk pulang ke kampung halamannya. Di tempat kelahirannya, Desa Daramista, Sumenep, Kiai Alimuddin senantiasa membantu orang tuanya dalam bertani, sampai kemudian pada 1941 mendirikan pondok pesantrens sendiri, yaitu Pondok Pancoran Emas Daramista.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun telah mengasuh pesantren sendiri, Kiai Alimuddin tetap merupakan sosok bersahaja, tawadhu dan zuhud. Ketika berjalan, ia selalu menundukkan kepala dan selalu berzikir. Jika diajak atau diundang oleh gurunya, Kiai Alimuddin bersegera memenuhi undangan tersebut. Bahkan, ketika diundang oleh sahabatnya pun, maka segera mungkin ia memenuhi undangan tersebut. Ketika teman-temannya sedang berbicara, dengan hormat Kiai Alimuddin mendengarkan selagi pembicaraan tersebut mengandung sebauah kemanfaatan. Maka, dari akhlaknya yang luhur ini, Kiai Alimuddin disenangi masyarakatnya dan teman-temannya.

Ketika berinteraksi sosial dengan masyakarat fakir dan miskin, Kiai Alimuddin selalu bertutut dengan sopan dan lemah-lembut, serta dengan senang hati membantu untuk meringankan beban yang diderita orang lain. Ia tak pernah membeda-bedakan tamu yang berkunjung: semua dijamu dengan senyum dan wajah berseri-seri.

One Reply to “Kiai Alimuddin: Sosok Zuhud dari Sumenep”

Tinggalkan Balasan