Kiai Arief dan Jalan Sunyi di Tanah Ulu Mahakam

Di sebuah pelosok yang dahulu hanya dikenal sebagai hamparan rawa dan permukiman kecil di Ulu Mahakam, nama KH Arief Heri Setyawan mulai dikenal sebagai seseorang yang menghidupkan cahaya dakwah di tengah masyarakat yang mayoritas non-muslim.

Kiai Arief tidak datang dengan modal uang yang banyak. Ia hanya membawa tugas, amanah, dan keberanian untuk melangkah ke sebuah wilayah yang asing baginya. Tapi dari situlah akhirnya berdiri sebuah pondok pesantren, tempat masyarakat setempat belajar dan memeluk Islam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Semua bermula pada awal 1990-an. Saat itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Provinsi Kalimantan Timur mengamanahkan Kiai Arief untuk menjadi Dai Pembangunan di Kecamatan Barong Tongkok. Penugasan itu kelak menjadi titik awal perjalanan panjang yang mengubah sejarah keagamaan di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Tempat pertama yang menjadi kediaman dan pusat aktivitasnya bukanlah pesantren, bukan pula rumah yang layak huni, melainkan bangunan tua bekas asrama Angkatan Darat yang sudah lama ditinggalkan. Dindingnya retak, atapnya bocor, dan lantainya hanya tanah keras yang dingin ketika malam tiba.

Namun, bangunan reyot itu tidak pernah melunturkan semangatnya. Setiap pagi, Kiai Arief berjalan menyusuri kampung-kampung. Mengetuk pintu penduduk, memperkenalkan dirinya, berbincang, dan menyampaikan pesan-pesan Islam. Tidak sedikit dari penduduk yang awalnya ragu karena belum mengenal sosok yang datang dari jauh ini. Sore harinya, jalan setapak menuju asrama itu kembali dilaluinya, lebih sering ditemani anak-anak yang ingin belajar membaca Al-Qur’an atau sekadar mendengarkan cerita agama.

Hampir setahun dakwah berlangsung dengan pola seperti itu, sampai suatu ketika situasi berubah. Seorang pejabat militer setempat mengeluarkan instruksi agar Kiai Arief meninggalkan bangunan tua tersebut. Bagi sebagian orang, perintah semacam itu dapat memicu konflik, tetapi Kiai Arief memilih menerima, melangkah pergi, dan mencari tempat baru tanpa merenggangkan persaudaraan. Sikapnya yang tenang justru menarik perhatian masyarakat. Di antara mereka, muncul keluarga-keluarga yang menawarkan sebidang tanah wakaf sebagai tempat baru untuk melanjutkan dakwah.

Tanah itu bukan lahan subur. Ia adalah tanah lama yang pernah diperuntukkan bagi transmigran puluhan tahun sebelumnya, kemudian ditinggalkan dan berubah menjadi rawa yang lebat. Tetapi di situlah Kiai Arief melihat harapan.

Bersama warga, ia membuka hutan secara manual: menebas ilalang, membersihkan tanah, menyusun papan bekas yang mereka temukan, dan merangkai bangunan pertama yang amat sederhana. Ukurannya tidak besar hanya cukup untuk beberapa santri dan dua guru yang saat itu mendampinginya. Atapnya pun hanya dari daun nipah yang mudah robek bila angin datang kencang.

Begitulah Pondok Pesantren Assalam berdiri. Bukan dari proyek besar apalagi modal yang banyak, melainkan dari keikhlasan dan kekuatan gotong royong. Sisa-sisa kayu bekas pedagang, keringat para warga, dan keteguhan seorang dai menjadi fondasi yang kemudian berkembang hingga seperti yang kita lihat hari ini.

Di balik sosoknya yang teguh, Kiai Arief menyimpan pengalaman yang hanya diketahui oleh orang-orang dekatnya. Ia pernah terseret arus Mahakam hingga hampir tenggelam, sebuah kejadian yang membuatnya selalu berhati-hati setiap kali menaiki kapal. Ia pernah tidak memiliki pilihan tempat beristirahat selain bangunan bocor yang menjadi kediamannya saat awal bertugas. Dan ia sering menyisihkan makanan untuk santrinya, memilih makan seadanya, bahkan berpuasa selang sehari, kebiasaan yang masih terus ia jaga hingga kini.

Dalam memberi hukuman atas kesalahan yang dibuat oleh santri-santrinya pun beliau tidak pernah melukai fisik. Baginya hukuman haruslah mendidik bukan malah memberikan warisan dendam.

Keteladanan itu tidak berhenti pada aspek personal. Dalam pengabdiannya, Kiai Arief juga membimbing mereka yang baru memeluk Islam dan mengenalkan syariat dari hal-hal paling dasar, mendampingi prosesi pemakaman secara layak, hingga memastikan mereka memahami konsekuensi menjadi seorang muslim yang mukallaf. Dari interaksi itulah masyarakat kemudian mengenal Assalam bukan sekadar sebagai pesantren, tetapi sebagai rumah dakwah.

Tiga dekade telah berlalu sejak langkah pertamanya di tanah Ulu Mahakam. Pesantrennya kini berkembang; jumlah santri bertambah, bangunan diperluas, dan kegiatan pendidikan semakin beragam.

Pesantren Assalam kini memiliki lembaga pendidikan formal mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Aliyah (SMA). Pesantren juga tidak mengutip bayaran dari para santri. Biaya operasional pondok berasal dari sumbangan donatur dan hasil unit-unit usaha pesantren, seperti usaha perkebunan, pertokoan dan Baitul Mal wa at-Tamwil (BMT). Seluruh siswa atau santri yang belajar di Assalam saat ini mencapai 600 orang. Sekitar 100 santri tinggal di pondok, sisanya santri kalong.

Meskipun situasinya sudah berubah, namun tidak dengan karakter Kiai Arief. Ia tetap sosok yang sederhana dalam gaya hidup, kuat dalam pendirian, dan teduh dalam memberi nasihat.

Kepada kami, pesannya selalu sama: istikamah. Setegas-tegasnya jalan dakwah, keberkahan hanya akan hadir bila seorang hamba terus teguh menolong agama Allah. Dan perjalanan hidup Kiai Arief adalah kesaksian nyata dari janji itu.

Tinggalkan Balasan