Kemarau datang lebih cepat tahun itu. Tanah di Desa Pangarengan pecah seperti piring yang retak. Sawah-sawah yang biasanya hijau berubah menjadi hamparan cokelat pucat. Angin yang bertiup dari arah perbukitan membawa debu, bukan lagi bau tanah basah seperti musim sebelumnya.
Setiap pagi, sebelum Matahari meninggi, Dini berjalan menuju sumur di belakang rumahnya. Ia membawa dua ember plastik yang sudah mulai kusam. Sumur itu dulunya dalam dan dingin, tetapi kini airnya tinggal sedikit, seperti napas orang yang hampir habis.

Ia menurunkan timba perlahan. Tali yang kasar bergesekan dengan bibir sumur, menimbulkan bunyi berderit yang sepi. Setelah beberapa saat, terdengar bunyi kecil timba menyentuh air. Dini menariknya pelan-pelan. Air yang terangkat tak pernah penuh lagi. Hanya setengah timba, kadang bahkan kurang. Ia menuangkannya ke dalam ember sambil menghela napas.
Di halaman rumah, dua batang cabai yang masih hidup berdiri layu. Dini menyiramnya dengan air yang sangat sedikit. Ia tahu tanaman itu mungkin tak akan bertahan lama, tetapi ia tetap menyiramnya, seperti seseorang yang masih berharap meski tahu harapannya hampir habis.
Rumahnya kecil, berdinding papan yang mulai lapuk. Di dalamnya hanya ada tikar, meja kayu, dan lemari tua yang sudah lama tak dikunci. Dulu rumah itu tidak terasa sunyi. Dulu ada suara langkah seorang laki-laki yang sering pulang dengan tubuh penuh debu sawah.
Namanya Bima, suami Dini. Namun sejak kemarau panjang membuat sawah tak lagi bisa ditanami, Bima pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Ia berjanji akan kembali setelah keadaan membaik. Sudah delapan bulan sejak hari itu. Sejak itu pula, desa Pangarengan terasa seperti musim yang tak kunjung selesai.
Awalnya, Dini masih menerima kabar. Sebulan setelah Bima pergi, datang sebuah pesan melalui tetangga yang kebetulan pulang dari kota. Bima bekerja di proyek pembangunan gedung. Pekerjaannya berat, tetapi ia berkata semuanya baik-baik saja.
