Kiai Asep Saifudin, Totalitas untuk Pendidikan Santri

Pada awal tahun 1974, Kiai Asep melalang buana ke berbagai kota di Jawa untuk mencari pengalaman dan menimba ilmu. Di antara kota yang menjadi saksi atas perjuangan hidupnya adalah Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bandung, Jakarta, Banten, Palembang, dan terakhir adalah Surabaya yang menjadi rihlah terakhir. Setibanya di Surabaya, Kiai Asep mencoba pekerjaan baru, termasuk menjadi kuli bangunan, sebelum menginjakkan kaki di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UIN Sunan Ampel, Surabaya).

Dengan semangat kuat, akhirnya Kiai Asep masuk jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab UIN Sunan Ampel. Kemudian, hijrah ke kampus IKIP Negeri Surabaya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemudian, beliau hijrah lagi ke Malang untuk melanjutkan studi di IKIP Malang. Alhasil, putra KH Abdul Chalim ini mampu menyelesaikan studi sarjana, magister, dan doktoralnya dengan perjuangan yang sungguh berat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat menjalankan aktivitas perkuliahan, putra salah satu tokoh NU di Jawa Barat ini disibukkan dengan dunia pergerakan. Tidak aneh ketika para santri Amanatul Ummah merasa kagum betapa sibuknya Kiai dengan segudang aktivitas intelektual maupun sosialnya. Kondisi ini bisa dilacak ketika Kiai Asep sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan, selama kuliah, Kiai Asep selalu berpindah-pindah tempat mencari pengalaman serta tidak pernah mempunyai tempat tinggal tetap. Dalam penuturannya di koran Duta Masyarakat, Kiai Asep menyatakan “Selama kuliah saya tidak punya tempat kos, cukup celana dua, sarung satu, baju dua. Taruh di mana-mana, di musala. Terus nanti keluyuran. Selama kuliah, saya belum pernah kos.”

Dunia pergerakan membentuk mentalitas Kiai Asep kian matang menghadapi segala terjangan badai kehidupan. Gesekan pemikiran dunia pergerakan membawanya menjadi sosok pemenang di kehidupan dengan segala kenangan pahit yang sudah dilaluinya. Dunia pergerakan memberikan konsepsi bahwa idealisme adalah harga mati untuk mewujudkan kebenaran. Dunia pergerakan menuntun Kiai Asep tegas ketika harga diri Bangsa Indonesia diinjak-injak penjajah.

Dalam pengakuan di koran Duta Masyarakat, Kiai Asep menyebutkan berbagai pengalamannya mengikuti dunia pergerakan sejak saat berstatus mahasiswa bahkan hingga sekarang. Ia, misalnya, pernah menjadi Ketua 1 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya, Ketua MUI Surabaya, Ketua PCNU Surabaya, Seketaris Umum RMI Jawa Timur, Rektor Institut Agama Islam al-Khoziniy sejak berdiri (1990) sampai sekarang, Ketua Umum Pengurus Pusat PERGUNU sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan