Benar apa yang dikatakan salah satu tokoh pergerakan Republik Indonesia, Paman Husein (Sapaan Gus Dur kepada Tan Malaka) bahwa tujuan pendidikan ialah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Sadar atas pentingnya pendidikan, Kiai Asep mencoba bangkit dari keterpurukan ekonomi dengan menimba ilmu pengetahuan hingga titik darah penghabisan.
Tantangan yang sangat berat bagi Kiai Asep untuk mewujudkan manusia unggul, utuh, dan ber-akhlakul karimah. Segala yang beliau curahkan adalah untuk kemuliaan Islam, kemuliaan kaum muslimin, serta kemuliaan bangsa Indonesia serta mewujudkan cita-cita kemerdekaan sejati bangsa Indonesia di tengah lemahnya kualitas intelektual bangsa ini. Mungkin bisa dikatakan mustahil untuk bisa direalisasikan.

Kiai Asep sangat memahami bahwa salah satu kunci utama dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial yakni dengan ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, Kiai Asep tidak mau gagal mengenyam pendidikan meskipun keadaan ekonomi sangat kritis bahkan hanya untuk makan sehari-hari. Bukankah perubahan bisa dicapai dengan disadari, diinginkan, dan diperjuangkan dengan sepenuh hati?
Sungguh luar biasa cita-cita yang diimpikan Kiai Asep untuk generasi santri di masa depan. Di dalam petuah-petuahnya, beliau selalu mengatakan, “Santri Amanatul Ummah kelak akan menjadi ulama besar yang akan menerangi Indonesia dan dunia.” Kiai Asep tidak main-main dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, utuh dan ber-akhlakul karimah. Dari sinilah saya teringat apa yang dikatakan oleh George Santayana, seorang filsuf berkebangsaan Spanyol, bahwa the body is an instrument, the mind its function, the witness and reward of its operation. Raga manusia hanyalah instrumen, pikiranlah yang mengendalikan seluruh sistem operasinya. Wallahu A’lam.
