Saat ini, 500 tahun sejak keruntuhan Majapahit, bangsa Indonesia masih tertinggal atau bahkan semakin tertinggal khususnya dalam bidang ilmu fisika, matematika, biologi, kimia, astronomi, rekayasa material, dan teknologi dari bangsa-bangsa lain yang lebih maju terutama bangsa-bangsa Eropa dan Amerika Utara. Dalam isu geopolitik dan geostrategis masa kini, yaitu Logam Tanah Jarang, bangsa Indonesia tidak memiliki kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir dalam pembuatan smelter. Smelter adalah alat pengolah sumber daya mineral untuk menghasilkan bijih-bijih mineral. Dalam waktu yang tidak lama lagi, Logam Tanah Jarang segera menggantikan peran minyak bumi sebagai sumber energi yang ramah lingkungan.

Era kejayaan minyak mentah dari bahan fosil semakin memudar. Hal ini ditandai dengan semakin merosotnya harga minyak mentah dunia pada kisaran 40 dollar AS per barel yang nyaris sama dengan biaya produksi penyedotan minyak mentah dari perut bumi.

Energi-energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan, sedang dikembangkan di berbagai penjuru dunia. Inggris dan Jerman mulai menggunakan sumber energi bebas polusi, mengurangi lebih dari 50% penggunaan bahan bakar fosil. Amerika Serikat menggunakan bioethanol berbasis jagung untuk sumber energi ramah lingkungan. Belanda meningkatkan efisiensi kincir-kincir anginnya untuk memperoleh sumber energi listrik yang bersih.
Energi listrik dari baterai Lithium merupakan sumber energi ramah lingkungan. Dalam waktu tak terlalu lama, mobil listrik akan menggantikan mobil berbahan bakar fosil. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mobil listrik adalah kunci kejayaan bangsa Indonesia masa kini dan masa depan. Material baterai lithium adalah: nikel, kobalt, dan mangan.
Pada Januari 2019, pabrik material baterai telah didirikan di Morowali, Sulawesi Tengah. Menteri Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan: “Republik Indonesia bisa menjadi pemain global mobil listrik lima tahun lagi. Pemerintah sedang menyiapkan peta jalannya.”
Indonesia, belajar dari RRC, mulai membangun dan mengembangkan industri hulu-hilir berbasis LTJ. Yaitu menggunakan investasi negara dalam pembangunan infrastruktur dan teknologi, mendukung badan usaha milik negara (BUMN Inalum) untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi smelter nikel. Setelah smelter nikel Konawe beroperasi penuh, sejak Januari 2020 Presiden Jokowi menginstruksikan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut BP untuk stop ekspor bahan mineral mentah ke luar negeri.
