Kiai dan Teologi Tanah (3): Logam Tanah Jarang

Pada konsentrat nikel, timah, emas, atau alumunium banyak mengandung Logam Tanah Jarang. Larangan ekspor konsentrat tersebut berarti sumber bahan baku ikutan berupa LTJ tidak bisa didapat lagi oleh smelter yang ada di luar Indonesia. Dengan demikian, semua industri pengolahan mineral di luar negeri yang membutuhkan bahan baku untuk industri hilirnya harus membangun smelter di Indonesia.

Eropa dan Amerika tidak pernah mau membangun smelter di Indonesia sejak rezim Orde Baru berkuasa hingga saat ini. Pemerintah China bersedia membantu bangsa Indonesia untuk selangkah lebih maju lagi, yaitu pembangunan smelter pertama di Nusantara sejak kemerdekaan Republik Indonesia hampir 75 tahun yang lalu. Pembangunan smelter nikel di Konawe Sulawesi Tenggara memerlukan biaya sekitar Rp 14 triliun dan menggunakan teknologi tinggi paling mutakhir. Smelter ini akan memproduksi bijih nikel, kobalt, dan mangan yang merupakan komponen utama baterai mobil listrik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Logam Tanah Jarang (LTJ) adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah scandium dan yttrium. Bumi Nusantara memiliki potensi mineral LTJ sekitar 1,5 miliar ton berdasarkan survei Badan Geologi di 29 lokasi yang berpotensi mengandung logam tanah jarang: Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, Pulau Bintan Riau, Kepulauan Anambas Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat. Daerah-daerah lain yang belum disurvei, juga berpotensi mengandung mineral Logam Tanah Jarang, yang bahkan bisa lebih besar lagi. Ini belum termasuk potensi mineral LTJ yang ada di laut dan samudera Indonesia.

Substansi geopolitik dan geostrategis, sejak masa Romawi bahkan jauh sebelumnya hingga abad milenial kini, adalah politik tanah. Tanpa kedaulatan atas tanah airnya, suatu bangsa tidak mungkin ada. Angan-angan Ben Anderson mengenai suatu komunitas terbayang atau imagined communities hanya bisa terwujud bersama-sama dengan hadirnya kedaulatan tanah air.

Resolusi Jihad Mbah Hasyim Asy’arie sangat penting diingat kembali, yaitu jihad membela dan mempertahankan tanah air Indonesia dari agresi militer tentara asing pada 1945. Jihad abad milenial adalah meraih kembali kejayaan Nusantara, yaitu bangsa Indonesia yang beradab, sejahtera, adil, dan makmur.

Bagi bangsa Indonesia, khususnya para kiai dan santri, wajib hukumnya membela dan mempertahankan tanah air Indonesia dari serbuan kapitalisme global yang akan merebut dan merampas tanah air Indonesia dengan menggunakan segala macam cara. Dengan demikian Teologi Tanah kontemporer adalah Resolusi Jihad fi sabilillah bagi bangsa Indonesia khususnya para kiai dan santri untuk membela dan mempertahankan setiap jengkal tanah air Indonesia dari serbuan bangsa asing yang hendak merebut dan merampasnya dari Bangsa Indonesia pada abad milenial ini.

Wallahualam bis shawab.

Tinggalkan Balasan