Suatu waktu, masih menurut Kiai M Faizi, pada hari Jumat, 4 April 2003, Kiai Faizi berkunjung ke rumah Kiai Habib. Maksud Kiai Faizi ingin menyamar agar tidak diketahui identitasnya sebagai generasi pendiri Pesantren Annuqayah.
Namun, selidik punya selidik, Kiai Habib rupanya kurang absah kalau tidak mengetahui dari mana para tamu yang sedang berkunjung. Maka pada akhirnya, Beliau pun mengetahui identitas Kiai Faizi.

Menyadari bahwa yang ada di depannya adalah keturunan pengasuh Annuqayah, Kiai Habib pun berkata, “Tak langkong, saporana bisaos keng polana tak oning, Ra.” (oh, maaf, sungguh saya tidak tahu, Ra). Sebuah kalimat penghormatan terhadap cucu guru dengan kata “Ra.” Kata ini merupakan panggilan hormat terhadap anak seorang pengasuh pesantren atau ulama.
Politisi dan NU
Kiai Habibullah Rais merupakan tokoh yang multitalenta. Selain sebagai pimpinan di Pesantren Al-Is’af Kalabaan, Beliau yang hidup sekitar tahun 1352-1431 H ini juga seorang politikus dan aktifis Nahdlatul Ulama (NU).
Jika ditanya mengapa Kiai Habib ikut terjun dalam dunia politik, jawabannya adalah mengikuti atau meneladani guru. “Saya aktif di politik karena ikut Kiai dan ikut partainya Kiai,” demikian jawaban sederhana Kiai Habibullah Rais.
Pada dasarnya, para pengasuh pondok pesantren di Sumenep khususnya, dan di Madura umumnya, berafiliasi pada organisasi Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari. Kaidah praktis terkait fikih dan amaliah ibadah pun mengikuti prinsip NU. Itu artinya, NU dalam pandangan Kiai Habib adalah hal biasa dan harus dibiasakan agar terbiasa dengan nilai-nilai ke-NU-an yang luar biasa.
Tidak banyak informasi yang bisa penulis dapatkan terkait dengan kegiatan Kiai Habib dalam politik praktis dan kepengurusan NU. Namun, yang terpenting dari ini semua adalah bagaimana seorang Kiai Habib yang begitu sibuk dengan kegiatan pesantren dan kegiatan di luar pesantren masih sempat untuk mengukir pengabdian di partai politik dan di NU. Dengan demikian, kita sebagai generasi kekinian tidak pantas beralasan sibuk untuk berbuat kebaikan dan kemaslahatan.
Penulis Produktif
