Selain mengasuh pesantren dan aktif di berbagai kegiatan social kemasyarakatan, Kiai Habibullah Rais juga seorang penulis yang sangat produktif. Sebagaimana dijelaskan Kiai Faizi, ada banyak kitab yang telah dihasilkan oleh kiai multitalenta ini.
Kitab merupakan jejak seseorang yang kemudian menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Dan Kiai Habib telah mewariskan banyak kitab yang tentu saja kita dapat mengambil hikmah dari kitab-kitab tersebut.

Di antara kitab-kitab karya Kiai Habib adalah Tarbiyatus Shibyan (pelajaran akhlak, ditulis dalam bentuk nazam dalam bahasa bahasa Arab dan Madura); Fathul Jannah wa Washiyyatul Azwaj (tentang keutamaan ilmu, berbuat baik kepada orang tua, keluarga, dan hubungan social); Ummul Ibadah (prosa berbahasa Madura, berisi panduan melaksanakan salat); Dalilun Nisak (prosa berbahasa Madura dan Arab, berisi penjelasan berbagai macam darah, haid, nifas, istihadlah, serta cara bersucinya); Hidayatut Taushit Baina al-Ta’aththu wa al-Tafrith (panduan bersuci lewat jalan tengah atau moderat); dan Idhadul Ba’dhi al-Mubhamat fi Ba’dhi al-Mushthalahat (panduan singkat tentang cara pengambilan pendapat yang valid dan muktamad dalam bermazhab).
Kitab-kitab tersebut hingga detik ini masih dibahas dan dipelajari oleh kalangan santri. Ada juga karya Beliau yang merupakan terjemahan bahasa Madura, yaitu kitab Imrithi dan Alfiyah ibn Malik, dan kitab Minhajul Irsyad yang dikaji secara terbatas di PP Al-Is’af.
Meskipun Kiai Habib sangat produktif dalam menulis, akan tetapi menurut pengakuannya, Beliau termasuk santri yang “nakal”. Dalam bahasa Madura, “nakal” artinya tidak rajin belajar. Suatu waktu saat Beliau masih menimba ilmu di Pesantren Annuqayah, karena tidak hafal suatu mata pelajaran, oleh Kiai Hashiem Ilyas yang mengampu pelajaran saat itu ditakzir (dihukum) dengan cara mengikat kepala Kiai Habib. Kemudian, oleh Kiai Hashiem sendiri dihela sambil berkeliling masjid.
Suatu saat, ketika keduanya sudah sama-sama sepuh berjumpa dalam suatu pertemuan, Kiai Habib menuturkan kejadian tersebut kepada Kiai Hashiem. Merespons kenangan itu, Kiai Hashiem berkata, “Seandainya santri-santri sekarang tahu bahwa engkau yang kini sudah punya banyak karya dan mengasuh pesantren, dulu pernah kuperlakukan seperti itu, niscaya mereka akan datang berduyun-duyun kepadaku dan meminta diperlakukan sama denganmu seperti waktu dulu itu….”
Demikianlah teladan Kiai Habibullah Rais yang patut kita jadikan inspirasi. Semoga kita masih punya “nyali” untuk terus mengikuti dan meneladani para ulama agar kita tidak tergelincir dari jalan yang tidak semestinya. Ingin sekali penulis akhiri tulisan ini dengan sebuah quote dari K Habibullah Rais, “Saya lebih senang punya santri yang mengajar daripada santri yang kaya. Karena pahala mengajar setiap waktu akan senantiasa mengalir kepadaku.”
Wallahu A’lam bis Shawab!
