Diceritakan, pada suatu waktu, Kiai Abdul Hamid Pasuruan menjalani laku tirakat dengan cara tidak memakan nasi. Istrinya, Nyai Nafisah, karena tidak tahu suaminya sedang melakukan tirakat, menyuguhkannya sepiring roti. Kemudian, demi menyenangkan hati sang istri, Kiai Hamid pun memakan beberapa kulit roti itu. Hanya kulitnya. Hal ini membuat Nyai Nafisah berkesimpulan bahwa suaminya suka dengan kulit roti.
Maka keesokan harinya ia membeli roti cukup banyak, kemudian menyuguhkan hanya kulitnya saja pada suami tercinta. Hal ini, barang tentu membuat Kiai Hamid tak kuasa menahan tawa. Kemudian ia menyatakan bahwa dirinya bukan penggemar kulit roti; apabila kemarin ia memakannya karena sedang menjalani tirakat.

***
